Hamzah Fansuri

Hamzah Fansuri dan Syam Al Din As Sumaterani memainkan peranan penting dalam membentuk pemikiran dan praktik keagamaan kaum muslim melayu khusus Sumatera dan Semenanjung Malaya bahkan juga hingga Jawa pada awal abad ke-17

Meski mereka termashur namun masih banyak hal yang menyangkut kehidupan Hamzah dan Syam Al Din masih tetap kabur dan problematik. Masih ada perbedaan pendapat mengenai tahun dan tempat lahir Hamzah Fansuri serta rentang masa hidupnya, sebab tahun kelahiran dan kematiannya tidak diketahui pasti. Meskipun begitu terdapat bukti bahwa dia hidup dan berjaya ketika Kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan ‘Ala al Din Ri’ayat Syah yang berkuasa pada 1589-1602. Diperkirakan Hamzah meninggal sebelum 1607.

Hamzah seorang ulama besar, aseli Melayu dari Fansur, Aceh Barat Daya. Dia melalukan perjalanan ke Timur Tengah, mengunjungi pusat pengetahuan Islam, termasuk Mekkah, Madinah, Yerusalem, Baghdad. Dia juga melayat ke Pahang, Kedah dan Jawa. Hamzah menguasai beberapa bahasa ; Arab, Persia, Urdu. Dia penulis produktif, tidak hanya menghasilkan risalah keagamaan, namun juga karya prosa yang sarat dengan gagasan mistis.

Karya karya di bidang tasawuf dianggap kontroversi, dia dituding sesat. Selain ulama yang dituding sesat Hamzah juga perintis terkemuka tradisi kesusastraan Melayu.

Tidak jelas hubungan Hamzah Fansuri dengan Syam Al Din As Sumaterani(w.1630), sebagian peneliti menyebut bersahabat, ada juga yang menyebut hubungan mereka guru dengan murid. Syam Al Din murid dari Hamzah. Yang jelas pemikiran keagamaan mereka sama. Dalam tasawuf mereka pendukung wahdah al wujud. Keduanya sangat dipengaruhi oleh ‘Ibnu ‘Arabi dan sangat ketat mengikuti sistim wujudiyah yang sangat rumit. Mereka menjelaskan alam raya dan seluruh isinya merupakan pengejawantahan dari tuhan. Manungguling kuwala gusti seperti keyakinan Syekh Siti Jenar di Jawa.

Konsep ajaran inilah yang mendorong para penentang mereka terutama Nur Al Din Al Raniri (w.1658) menuduh Fansuri dan Syam Al Din sebagai panteis, dan sesat.

Islam yang masuk ke Nusantara bercorak sufi. Sehingga Islam yang berkembang masih bercorak mistik, terutama aliran wujudiyah berjaya bukan hanya di Aceh dan Melayu saja, namun juga Nusantara. Meski sudah ada upaya-upaya untuk menerapkan persepsi syariat, namun belum memperlihatkan hasil yang maksimal. Pada beberapa bagian syariat belum berjalan sebagai mana mestinya. Bisa dikatakan bahwa Nur Al Din Ar Raniri merupakan tokoh yang paling awal membawa pembaharuan Islam di Melayu-Nusantara. Mengikis ajaran wujudiyah yang disebarkan oleh Hamzah Fansuri dan Syam Al Din as Sumatera inilah yang menjadi Fokus Raniri.

Kategori Tokoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close