Benar Ingin Kembali ke Surau

Kembali Ke Surau, begitu yang sering digaungkan oleh masyarakat Minang yang suka mendramatik dan melankolik sejak dua dekade belakangan. Pasca reformasi.

Kembali ke Surau yang mana?

Secara bahasa Surau merupakan masjid kecil, tempat melakasanakan sholat berjamaah kecuali sholat jum’at. Sedangkan secara istilah Surau dalam bahasa Minang Tempo Dulu memiliki dua definisi.
1. Surau, merupakan bangunan tempat melaksanakan ibadah sholat ‘bakaum: atau sholat berjemaa, mengaji (membaca Al Qur’an) bagi anak-anak dan wirid mingguan atau bulanan bagi kaum muslim. Kurang lebih sama seperti Langgar di Jawa atau Mushola sebutan zaman sekarang. Surau dalam artian pertama ini tempat belajar dasar-dasar agama Islam bagi kaum muslimin yang masih bersifat umum.
2. Surau dalam artian tempat belajar Islam tingkat lanjut. Mempelajari seluruh cabang-cabang ilmu agama Islam. Seperti Pondok di Malaysia atau Pesantren di Jawa. Namun tidak sama dengan pesantren zaman sekarang. Karena Surau pada tempo dulu 100% hanya mempelajari ilmu-ilmu agama Islam tanpa pelajaran umum.

Surau dipimpin oleh seorang Tuangku Syaikh (seperti Kyai di Pesantren Jawa). Tidak ada ada santri di Surau, yang ada ‘Anak Siak’ atau “Pakiah’ yang datang dari berbagai daerah di Sumatera bahkan dari semenanjung Malaya dan Patani, Thailand Selatan. Surau yang dipimpin oleh seorang Tuangku Syaikh berdiri di lahan yang cukup luas, kebanyakan dekat dengan sungai. Surau dikelilingi oleh surau-surau kecil, sebagai asrama ‘Anak Siak’. Ada surau Pariaman dihuni oleh Anak Siak yang berasal dari Pariaman, surau Pasaman ditempati oleh Anak Siak dari Pasaman, begitu pula Surau Riau, Surau Kerinci, Surau Muko² dan lainnya. Seperti Surau Syaikh Abdurahman, Kakek Bung Hatta di Bahuhampu yang kompek surau dikelilingi sekitar 30 surau-surau kecil sebagai asrama Anak Siak yang mengaji kepadanya yang berasal dari berbagai daerah Sumatera dan semenanjung Malaya.

Untuk menjadi Anak Siak di Surau tidak perlu mengisi formulir pendaftaran, tidak perlu menunggu tahun ajaran baru, tidak butuh syarat Ijazah TPA atau TPQ misalnya, tanpa batasan usia, tidak perlu cemas di-Droup Out (DO), tidak ada uang pangkal alias uang pembangunan, tidak ada SPP bulanan, Semua itu tidak dibutuhkan. Hanya butuh satu syarat, Keinginan mempelajari Ilmu-ilmu Islam, itu saja. Cukup.

Anak Siak ada yang masuk pada usia 12 tahun, ada yang 15 tahun, ada juga yang usia 20. Masa belajar pun demikian, ada yang 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun bahkan 20 tahun. Di Surau tidak ada kelas atau tingkat, tidak ada meja, kursi belajar dengan sistim ‘baonggok’ atau halaqqah. Syaikh membedah satu kitab Anak Siak duduk bersila mengelilinginya. Atau Anak Siak diminta membaca beberapa baris kitab, lalu Syaikh menjelaskan, membedahnya. Kitabnya kitab kuning, kitab full beraksara dan berbahasa Arab. Kitab turats, lebih dikenal dengan kitab kuning.

Jam belajar fleksibel. Jika Syaikh seorang petani, pagi hari Anak Siak ikut membantu Syaikh di sawah, jika musim panen ikut membantu panen dan menjual hasil panen ke Pekan-pekan. Jika syaikh seorang pedagang tak jarang Anak Siak ikut syaikh berdagang ke pakan-pakan (pasar-pasar Nagari) pada hari tertentu. Ikut syaikh bertani, ke ladang atau berdagang semua itu bagian dari belajar. Karena ilmu dan amal bagi orang yang belajar di Surau tidak terpisah.

Tidak ada ujian tengah semester, tidak ada ujian semester, tentu saja tidak ada sidang skripsi. Ujiannya bisa sewaktu-waktu, tiba-tiba, misalnya jika ada warga yang meninggal tiba-tiba Syaikh meminta salah seorang Anak Siak untuk memimpin upacara penyelenggaraan jenazah, memimpin taklin dan do’a, tahlil. Harus setiap saat. Anak Siak tidak dikenal sistim SKS (sistim kebut semalam).

Surau selain mengajarkan ilmu eksoteris (fiqih, tafsir, hadist) juga mengajarkan ilmu esoteris (tasawuf dan kalam). Pada umumnya Surau yang dipimpin oleh Tuangku Syaikh juga mengajarkan tharikat, surau juga merupakan tempat suluk.

Surau dalam artian tempat belajar Islam tingkat lanjut, sebenarnya telah lama terpinggirkan. Sejak pemerintah kolonial menerapkan politik etis, dengan mendirikan sekolah-sekolah sekuler pada pertengahan 1800. Pasca Perang Paderi surau dalam artian kedua ini sudah mulai ditinggalkan.

Entis Minang dan Minahasa yang paling terdepan dan antusias menerima pendidikan sekuler dari pemerintah Kolonial Belanda. Para orang tua dengan senang hati mengantarkan putera mereka untuk mendapatkan pendidikan sekuler yang didirikan pemerintah kolonial. Karena itulah pada massa awal kemerdekaan kedua etnis ini paling banyak di birokrasi.

Kedatangan Modernis Islam di Ranah Minang pada awal 1900, juga berperan meminggirkan peran Surau. Tokoh-tokoh modernis Islam yang baru pulang dari Mekkah setelah belajar pada Syaikh Ahmad Khatib merombak sistim pendidikan surau. Sepulang melawat dari Jawa Haji Rasul membawa Muhammadiyah ke Minangkabau, beliau merombak sistim pendidikan surau yang semula dengan sistim ‘baonggok, halaqqah ‘. Ia meniru sistim kelas atau tingkat yang telah diperkenalkan oleh Sekolah² Muhammadiyah di Jawa. Murid² yang mengaji di Surau Jembatan besi tidak lagi duduk di lantai mengelilingi Syaikh, tapi duduk di bangku di perkenalkan sistim kelas. Lalu merubah nama Surau Jembatan Besi menjadi Thawalib Scholl. Gebrakannya ini dikuti oleh Syaikh Abdullah Ahmad di Padang dengan mendirikan PGAI dan Yayasan Pendidikan Adabiah. Kelompok Modernis Islam atau pada masa itu disebut Kaum Mudo di sekolah yang mereka dirikan tidak lagi hanya mengajarkan Ilmu-ilmu agama Islam 100% namun juga pelajaran umum, ilmu-ilmu sekuler. Masyarakat Minang yang memang kosmopolitan dan terbuka tentu saja lebih tertarik memasukan putera mereka ke sekolah dengan kombinasi pelajaran umum ini dibanding surau yang sepenuhnya hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam.

Peralihan dari sistim pendidikan surau menjadi madrasah dengan memasukan pelajaran umum berjalan dengan cepat tak terhadang. Ulama Kaum Tuo dengan paham tradisional berusaha bertahan namun tak kuasa, hingga pada tahun 1930, Syaikh Sulaiman Ar Rasuli juga mengikuti, merombak Surau Canduang yang dipimpinnya. Merubah suraunya menjadi Madrasah Tarbiah Islamiah (MTI) bahkan lebih lanjut berubah menjadi Partai Politik dengan nama Perti. Beliau juga memasukan pelajaran umum di Surau atau madrasah yang dipimpinnya.

Surau dalam artian pertama, tempat sholat berjamaah, belajar mengaji Al Qur’an (sekarang Iqro’) sebenarnya tidak pernah benar-benar ditinggalkan masyarakat minang, malah semakin semarak sejak dekade belakangan. Surau dalam artian kedua, tempat belajar ilmu Islam lanjutan, yang dipimpin oleh Tuangku Syaikh, dan huni oleh Anak Siak ini memang telah lama ditinggalkan. Saya tidak tahu, masih adakah Surau, atau sekarang sebut saja pesantren di Minangkabau yang 100% hanya mengajarkan ilmu-ilmu Islam tanpa pelajaran umum sama sekali, seperti pondok pesantren salafiah di Jawa Timur dan Madura.

Benar ingin kembali ke Surau?

Saat ini sebagian besar masyarakat Minang dalam memilih pondok pesantren untuk putera-puteri mereka memilih pesantren yang paling banyak mengajarkan pelajaran umum atau sekuler agar putera-puteri mereka lulus pesantren bisa bersaing dengan murid-murid sekolah sekuler untuk masuk PTN favorit dan jurusan yang juga favorit seperti Kedokteran, Teknik. Pilihannya jatuh kepada Pondok Pesantren Modern dengan kurikulum dari Kementrian Pendidikan Nasional (SMPIT atau SMUIT) bukan Pesantren dengan kurikulum dari Kementrian Agama (Madrasah Tsanawiyah, Aliyah).

Jika ingin jujur, putera-putera Minang tempo dulu yang kita bangga-banggakan selama ini, sebut saja H. Agus Salim, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Muhammad Yamin, Muhammad Natsir dan banyak lainnya, selain Hamka dan beberapa orang lainnya bukan alumni atau lulusan Surau, tapi sekolah-sekolah sekuler yang didirikan Kolonial Belanda.

Sekali lagi benar ingin kembali ke Surau?

Kategori Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close