Gemuruh Suara Lapau Dan Suara-Suara Yang Akan Lenyap

Beberapa bulan lalu, ketika pulang ke Pariaman, malam hari saya mampir ke ‘Lapau’. Dari kecil hingga saat ini saya bukanlah tipikal ‘Anak Lapau’, yang memiliki segudang “otta’ yang membuat suasana lapau bergemuruh. Sama sekali tidak. Bukan, kehadiran saya tidak menambah dan ketidak-hadiran pun tidak mengurangi riuh-rendah suasana Lapau. Di Lapau saya lebih banyak diam menyimak orang² “maaota” dari pada ikut nimbrung bicara.

Saya terkagum-kagum kepada orang yang “gadang otta” yang kehadirannya di lapau mampu menghidupkan suasana. Bualan-bualannya membuat otat perut dan otot pipi kejang tertawa. Terlepas itu kisah telah ‘bumbui’ atau tidak. Entah, itu kisah perburuan babi yang menegangkan, cerita tentang Anjing pemburu babi yang gesit, atau rumor-rumor seputar kampung yang sedang hangat di sela-sela hentakan ‘Batu Simpilang’ menyentak meja. Namun hal seperti yang saya bayangkan tidak terjadi pada malam itu. Padahal saya datang ke Lapau dengan masih dengan membawa khayalan tentang Lapau pada tempo doeloe. Lapau yang diterangi dengan lampu petromak, tanpa televisi apalagi wifi. Suasana Lapau sebelum benda ajaib pipih yang kita sebut telpon pintar ini mereggut semuanya, termasuk riuh-rendah, canda dan gelak-tawa, suasana Lapau.

Suasana Lapau yang saya dapati beberapa bulan lalu, jauh dari semua itu, hanya beberapa orang lanjut usia duduk menahan kantuk menghadapi segelas kopi hitam, di sudut lainnya beberapa orang remaja tanggung sibuk dengan ponsel masing-masing, sambil sekali-kali ngobrol membahas game yang tengah mereka mainkan, atau video pendek berbagi yang sedang viral. Televisi menyala entah siapa yang menonton. Bahkan suara yang paling saya rindukan ; suara hantaman “Batu Simpilang” menghajar meja nihil pada malam itu.Saya telah mempersiapkan ponsel untuk merekam audio gemuruh suara Lapau tentang bualan-bualan yang mengasyikan dari si Gadang Otta, yang jago membual. Malam itu saya ingin mendengarkan deskripsi terbunuhnya seekor babi hutan tua pada perburuan beberapa hari yang lalu pada sebuah lembah. Anjing hebat siapa yang lebih dulu menerkam babi.

Lapau pada tempo doeloe selain menjadi sarana hiburan dengan berkumpul setelah lelah capek bekerja seharian di sawah, di ladang juga menjadi ajang mengasah keterampilan berbicara. Meja-meja lapau merupakan podium untuk tampil mempertahankan pendapat dengan argumen-argumen yang kuat. Siapa saja boleh tampil bicara mengemukakan sebuah pendapat, sebuah ide, sebuah wacana, namun juga harus siap untuk dibantah, ‘dicimeeh’, diolok-olok bahkan dipermalukan. Ada yang tak datang lagi ke Lapau hingga berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan pindah lapau karena malu gagal mempertahankan pendapat. Lapau dapat ‘membesarkan’ sekaligus ‘membunuh’ seseorang.

Kemajuan teknologi, zaman yang bergerak merenggut satu persatu bagian masa lalu kita. Malam itu saya telah kehilangan gemuruh suara lapau, tidak hanya itu sejatinya kemajuan teknologi telah merampas banyak hal dari kita, mulai dari perangko, kertas surat, briven bus alias kotak surat, telpon umum koin, pesawat telpon (rumah), wartel, VCD/DVD Player, surat khabar, tabloid, sebentar lagi barangkali televisi, mesin ATM juga akan pelan-pelan juga akan lenyap.

Tentu saja ada rasa kehilangan terhadap benda atau perangkat yang menjadi bagian hidup kita pada masa lalu akan lenyap. Namun tak perlu meskipun benda atau perangkat itu tidak menjadi bagian dari hidup kita lagi pada masa mendatang setidaknya kita masih bisa menemui di museum untuk sekadar mengenang masa silam, atau untuk mengenalkan kepada putera-puteri kita. Namun bagaimana dengan barang-barang yang tak berwujud, katakan peristiwa atau kenangan, seperti gemuruh suara lapau? sorak-sorai pada aktifitas berburu babi, suara aktraksi randai, suara tapak kaki kuda bendi menginjak aspal, suara pencak silat, suara saluang, suara “pupuik batang padi, suara telempong, riuh suara “santok” di surau, suara angkot mogok, suara pedagang sayur keliling, suara mesin jahit tua, suara “tabuah” (bedug), suara rumpun bambu ditiup angin, suara air sawah mungkin saja akan lenyap jika hutan dan lahan pertanian beralih fungsi menjadi kawasan industri.

Tidak hanya suara-suara alam dan tradisi yang akan lenyap, suara-suara yang membersamai masyarakat urban-perkotaan saat ini punya potensi yang sama untuk lenyap. Dulu setiap pedangan makanan keliling punya suara khas sebagai tanda bagi pelanggannya. Penjual Bakso/Mie ayam dengan suara mangkok dipukul dengan sendok atau tanduk kerbau, pedangan es cendol dengan suara lonceng, penjual roti, penjual putu bambu, penjual es dawet, penjual sate dan lain sebagainya memiliki bunyi khas masing-masing sehingga kita yang dalam rumah tanpa melihat mengetahui jajanan yang lewat di depan rumah. Kini suara-suara khas itu tergantikan dengan rekaman audio. Setidaknya kita butuh waktu lebih untuk mencerna suara rekaman penjual makanan apa yang sedang lewat di depan rumah.

Kemarin pagi saya membahas perihal ini–suara-suara yang mungkin akan lenyap–dengan Bunda Alwi di dapur. Diujung obrolan saya mengajukan pertanyaan, jika benda berwujud dan suara bisa ‘diawetkan’ dengan mendokumentasikan baik itu visual untuk benda berwujud, audio untuk suara, bagaimana dengan aroma? Misalnya aroma ‘lauk tukai’, aroma “jariang bakar”, aroma jerami dibakar, karena suatu saat hal-hal seperti ini juga akan lenyap.

Foto : Doc. RCTI+

Kategori Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close