SELAMAT BERPISAH ‘HITAM’

Seperti halnya Ahok yang sudah saatnya akan digantikan Anies. Kau pun mau tak mau juga harus diganti walaupun jam terbangmu masih terbilang rendah, baru di penghujung Ramadhan tahun lalu aku mememukanmu dan memilikimu di Week end Bazaar Bintaro. Namun kondisimu sudah cabik dan kritis. Mungkin sebelum aku mengakuisisi, dirimu sudah lama bersemedi digudang. Memang seperti itulah dunia bekerja,ia hanya menjadi persinggahan untuk menunggu giliran lalu terlupakan.

Bukan..bukan aku tak lagi cinta, tapi fisikmu sudah tampak tua dan lelah membuatku tak tega, dirimu (termasuk aku) menjadi bahan gunjingan orang saat dibawa ke tempat ramai.

Aku tahu kenapa kau mengalami penuaan dini, hingga tercabik-cabik begini tidak seperti yang sebelum-sebelumnya yang pernah aku miliki sebelum kamu. Ini memang salahku juga, aku terlalu cepat mendua,mempersiapkan penggantimu. Padahal sudah hampir satu dekade aku tidak pernah mendua, selalu satu. Lain hal dahulu saat masih remaja hingga berkeluarga, jangankan mendua aku malah punya setengah lusin sepertimu.

Sekitar tiga bulan yang lalu ketika kami ke pusat kulakan Tanah Abang. Niat hanya sekedar shoping window sambil menemani keluarga yang datang dari Padang berbelanja. Namun apa daya tawaran mama Wid yang berbaik hati untuk membayar terlalu ‘sadis’ untuk ditolak disaat tanganku membelai lembut ‘sibiru’, “kesempatan langka untuk dilewatkan” ujarku membatin. Tak cukup setegupan kopi aku sudah menganggukan tawaran itu. Akhirnya aku membawanya pulang.

Aku yakin. Kau berhak atas perlakuan yang istimewa setelah sepuluh purnama mengikuti langkah kakiku yang terkadang kuat dan cepat namun juga sering ringkih dan gontai ini. Sekian lama memanaskan aneka arena dalam gelanggang kehidupan.

Kini dunia metropolis dan hingar-bingar kehidupan luar tidak ramah lagi padamu. Dan juga membuatku malu jika terus bersamamu.

Setelah ini tugasmu akan digantikan oleh ‘sibiru’. Ia sama sepertimu namun penampilannya lebih segar dan bugar.

Terima kasih ‘hitam’. Jangan takut kesepian atau tercampakan. Sebab kemarin isteriku Wisdawati Syafri sungguh sudah mempersiapkan gunting dan sangat ingin meng’Makeover’mu menjadi kain lap. Bukankah disaat usia senja masih diberi kepercayaan tidak tercampakan begitu saja seperti yang lain.

Salam perpisahan majikanmu.

****

Al Albana, Padang, 3 Rajab 1438.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close