Agama Vs Sains, Islam Vs Pancasila

Hingga saat ini, secara global Corona unggul 1-0 atas Sains. Kemajuan Sains belum mampu menemukan vaksin Covid-19, begitu pula kecanggihan teknologi, tidak terlalu banyak membantu dalam menghadang penyebaran virus berbahaya ini.

Barangkali karena hal semacam inilah, sejak massa silam hingga kini, yang membuat agama tetap eksis di bumi ini. Andai saja semua permasalahan di dunia ini dapat diselesaikan oleh Sains, bisa jadi peran agama akan punah, setidaknya tersingkir ke ruang bilik-bilik private yang sempit lagi sunyi, yang kita namai sekuler dan hanya masyarakat suku terasing di pedalaman saja yang belum bersentuhan dengan sains modern yang masih percaya kepada tuhan.

Semoga pasca pagebluk Corona gelombang atheis atau setidaknya sekuler yang sedang berkembang pesat kembali surut.

Agama dan Sains bukanlah sesuatu yang meski dipertentangkan ; jika satu benar yang lain salah. Tidak, tidak begitu. Menjadi seorang yang religius tidak meski anti Sains begitu pula sebaliknya ; berkhidmat kepada Sains tidak mesti menjadi atheis. Ingat kebenaran Sains adalah kebenaran mutakhir bukan kebenaran terakhir (final). Meskipun empiris namun tidak ada kebenaran final dalam dunia Sains. Akan selalu ada teori baru yang menggugurkan teori sebelumnya. Begitu terus.

Sains punya ranah sendiri, agama juga punya ranah sendiri. Bisa jadi ada yang beririsan, namun tentu ada yang lepas. perbedaan ranah antar keduanya tidak meniscayakan keduanya mesti dipertentangkan.

Sudahlah!
Mempertentangkan Pancasila dengan (Syariat) Islam tidak akan pernah berakhir, bahkan hingga Indonesia bubar tahun 2030 atau hingga matahari terbit di barat. Akan selalu ada amunisi berlimpah bagi kedua kubu untuk saling serang. Begitu pula bagi mereka yang gemar mencari persamaan antara syariat Islam dengan Pancasila. Comot ayat Al Qur’an untuk disamakan dengan sila atau dengan butir Pancasila adalah pekerjaan mubazir, ilusi belaka. Karena satu Ayat yang sama diselimuti berlapis tafsir, berbeda penafsiran dan pemahaman, apalagi dicocokan dengan hal yang lain yakni Pancasila.

Syariat Islam dengan Pancasila, ya jelas beda, Yang satu turun dari Allah sedangkan lainnya dari olah pikir manusia (Soekarno) namun bukan berarti untuk dipertentangkan. Dan bukan pula untuk dicocok-cocokan (disama-samakan). Islam dan Pancasila bisa jadi ada bagian yang beririsan, tentu juga ada bagian yang lepas, semoga tidak ada bagian yang bertentangan. Jika pun ada ketidakselarasan antara Islam dan Pancasila, mari bijak kita mensikapinya.

Sederhananya begini, seperti Alas kaki dan payung. Jika keluar rumah saat hujan gunakan payung, sedangkan jika jalanan berduri gunakan sandal. Atau bisa gunakan secara bersamaan keduanya ; ke luar rumah di saat hujan dan menempuh jalan berduri gunakan payung dan sandal. Jangan saat hujan lebat pakai sandal di tempat tidur sambil memeluk payung. Itu aneh namanya. Kalau tak ingin disebut gila.

Hubungan Islam dan Pancasila bukan untuk menafikan namun saling menguatkan pada tatanan dan kondisi tertentu.

Islam dan Pancasila memang tidak bertemu di syariat barangkali keduanya bisa bertemu di hakikat, bisa jadi pula baru bisa bertemu di makhrifat.

****

Al Albana, Andalas, 14 Syawal 1441

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close