Berceramah, Menulis Menasehati Diri Sendiri

Kerap kita dengan dari mimbar sholat jum’at khotib berwasiat ; “Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, khotib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi,”…dst.
Sepintas terdengar basa-basi, klise, pemanis kata, kalimat “terutama kepada diri khotib sendiri”. Kadang saya menanggapi dalam hati “ya, kalau buat diri sendiri tak perlu disampaikan di atas mimbar”, tapi itu dahulu, ketika masih jahiliyah. Sekarang saya paham bahwa memang harus seperti itu ; menasehati orang lain pada hakikatnya kita sedang menasehati diri sendiri. Lahirnya kata kata yang meluncur dari bibir atau kalimat yang kita tulis ditujukan untuk menasehati orang lain, namun pada bathinnya kita sedang menceramahi diri sendiri yang bebal, egois, sulit menerima kebenaran dari luar. Itulah sebabnya kita lebih memilih menasehati diri sendiri dengan menempuh jalan berliku ; melalui menasehati orang lain. Setiap kata akan kembali kepada lidah yang menuturkannya. Khotib yang mimbar tidak sepenuhnya tengah menasehati kita, beliu juga sedang menasehati diri sendiri.

Barangkali itu pulalah sebabnya banyak orang gemar membagikan nasihat, motivasi di media sosial. Ada yang senang, ada yang jengkel, ada pula yang sinis dan beragama reaksi lainnya, sesuai dengan pemahaman masing-masing, dan itu wajar. Karena kita beragam. Hanya reaksinya saja yang perlu sedikit dikendalikan. Mari kita anggap saja mereka sedang menasehati diri sendiri, seperti khotib pada mimbar sholat jum’at. Mudah kan?

Ada kisah menarik seperti hal ini yang ditulis Buya Hamka pada Kata Pengantar Buku Tasawuf Modern cetakan ke-12 pada tahun 1970.

Buya Hamka menyelesaikan buku Tasawuf Modern ini pada tahun 1939. Buku ini mendapatkan respon yang sangat baik dari masyarakat hingga cetak ulang beberapa kali. Ketika dipenjara tahun 1964, Buya Hamka membaca kembali buku ini. Seseorang bertanya untuk apa beliau membaca kembali karya sendiri. Pada cetakan ke 12 Buya Hamka menjelaskan kenapa beliau membaca karya sendiri.

Perhatikan paragraf penutup Kata Pengantar ini!


(diambil dari Pengantar buku Tasawuf Modern cetakan ke 12, karya Buya Hamka).

Pada hari Senin tanggal 12 Ramadhan 1385, bertepatan dengan 27 Januari 1964, kira-kira pukul 11 siang, saya dijemput di rumah saya, ditangkap, dan ditahan. Mulanya dibawa ke Sukabumi.

Diadakan pemeriksaan yang tidak berhenti-henti, siang-malam, petang-pagi. Istirahat hanya ketika makan dan sembahyang saja. 1001 pertanyaan, yah 1001 yang ditanyakan Yang tidak berhenti-henti ialah selama 15 hari 15 malam, Di sana sudah ditetapkan lebih dahulu bahwa saya mesti bersalah. Meskipun kesalahan itu tidak ada, mesti diadakan sendiri. Kalau belum mengaku berbuat salah, jangan diharap akan boleh tidur. Tidur pun diganggu! Kita pasti tidak bersalah. Di sana mengatakan kita mesti bersalah. Kita mengatakan tidak. Di sana mengatakan ya ! Sedang di tangan mereka ada pistol. Satu kali pernah dikatakan satu ucapan yang belum pernah saya dengar selama hidup. “Saudara pengkhianat, menjual negara kepada Malaysia!”

Kelam pandangan mendengar ucapan itu. Berat!

Ayah saya adalah seorang alim besar. Dari kecil saya dimanjakan oleh masyarakat, sebab saya anak orang alim! Sebab itu, ucapan terhadap diri saya di waktu kecil adalah ucapan kasih.

Pada usia 16 tahun saya diangkat menjadi Datuk menurut adat gelar pusaka saya ialah Datuk Indomo.

Sebab itu, sejak usia 12 tahun saya pun dihormati secara adat. Lantaran itu sangat jaranglah orang mengucapkan kata-kata kasar di hadapan saya.

Kemudian saya pun berangsur dewasa. Saya campuri banyak sedikitnya perjuangan menegakkan masyarakat bangsa, dari segi agama, dari segi karang-mengarang, dari segi pergerakan Islam, Muhammadiyah, dan lain-lain. Pada tahun 1959 al-Azhar University memberi saya gelar Doctor Honoris Causa, karena saya dianggap salah seorang Ulama Terbesar di Indonesia.

Sekarang terdengar saja ucapan, “Saudara pengkhianat, menjual negara kepada Malaysia.”

Gemetar tubuh saya menahan marah, kecil polisi yang memeriksa dan mengucapkan kata-kata itu saya pandangi, dan pistol ada di pinggangnya.

Memang kemarahan saya itulah rupanya yang sengaja dibangkitkannya. Kalau saya melompat kepadanya dan menerkamnya, tentu sebutir peluru saja sudah dalam merobek dada saya. Dan besoknya tentu sudah dapat disiarkan berita di suratsurat kabar: “Hamka lari dari tahanan, lalu dikejar, tertembak mati!”

Syukur alhamdulillah kemarahan itu dapat saya tekan, dan saya insaf dengan siapa saya berhadapan. Saya yang tadinya sudah mulai hendak berdiri terduduk kembali dan meloncatlah tangis saya sambil meratap, “Janganlah saya disiksa seperti itu. Bikinkan sajalah satu pengakuan bagaimana baiknya, akan saya tandatangani. Tetapi kata-kata demikian janganlah saudara ulang lagi!”

“Memang saudara pengkhianat!” katanya lagi dan diapun pergi sambil menghempaskan pintu.

Remuk rasanya hati saya. Mengertilah saya sejak itu mengapa segala barang tajam wajib dijauhkan dari tahanan yang sedang diperiksa.

Di saat seperti itu, setelah saya tinggal seorang diri datanglah tamu yang tidak diundang, yang memang selalu datang kepada manusia di saat seperti demikian. Yang datang itu ialah SETAN! Dia membisikkan ke dalam hati saya supaya saya ingat bahwa di dalam saku saya masih ada pisau silet. Kalau pisau kecil itu dipotongkan saja kepada urat nadi, sebentar kita sudah mati. Biar orang tahu bahwa kita mati karena tidak tahan menderita.

Hampir satu jam lamanya terjadi perang hebat dalan batin saya, di antara perdayaan Iblis dengan Iman yang telah dipupuk berpuluh tahun ini. Sampai-sampai saya telah membuat surat wasiat yang akan disampaikan kepada anak. anak di rumah.

Tetapi alhamdulillah: Iman saya menang.

Saya berkata kepada diriku, “Kalau engkau mati membunuh diri karena tidak tahan dengan penderitaan batin ini, mereka yang menganiaya itu niscaya akan menyusun pula berita indah mengenai kematianmu. Engkau kedapatan membunuh diri dalam kamar oleh karena merasa malu setelah polisi mengeluarkan beberapa bukti atas pengkhianatan. Maka hancurlah nama yang telah engkau modali dengan segala penderitaan, keringat, dan air mata sejak berpuluh tahun.

Dan ada orang yang berkata, “dengan bukunya “Tasawuf Modern” dia menyeru orang agar sabar, tabah, dan teguh hati bila menderita satu percobaan Tuhan. Orang yang membaca bukunya itu semuanya selamat karena nasihatnya, sedang dirinya sendiri memilih jalan yang sesat. Pembaca bukunya masuk surga karena bimbingannya, dan dia di akhir hayatnya memilih neraka.”

Jangankan orang lain, bahkan anak-anak kandungmu sendiri akan menderita malu dan menyumpah kepada engkau.”

Syukur alhamdulillah, perdayaan setan itu kalah dan dia pun mundur. Saya menang! Saya menang!.

Klimaks itu telah terlepas.

Setelah selesai pemeriksaan yang kejam seram itu, mulailah dilakukan tahanan berlarut-larut. Akhirnya dipindahkan ke rumah sakit Persahabatan di Rawamangun Jakarta, karena sakit. Maka segeralah saya minta kepada anak-anak saya yang selalu melihat saya (besuk) agar dibawakan “Tasawuf Modern”.

Saya baca dia kembali di samping membaca Al-Our’an.

Pernah seorang teman yang datang, mendapati saya sedang membaca “Tasawuf Modern.” Lalu dia berkata, “eh, Pak Hamka sedang membaca karangan Pak Hamka?”.

“Memang!,” jawab saya. “Hamka sedang memberikan nasihat kepada dirinya sendiri, sesudah selalu memberikan nasihat kepada orang lain. Dia hendak mencari ketenangan jiwa dengan buku ini. Sebab telah banyak orang memberi tahukan kepadanya bahwa mereka mendapat ketenangannya kembali karena membaca buku “Tasawuf Modern’ ini!”

Teringatlah saya kepada peristiwa-peristiwa yang muram itu seketika Sdr. H.A. Malik Ismail datang meminta persetujuan saya akan menerbitkannya kembali, sebagai cetakan ke XII.

Moga-mogalah kiranya buku ini memberi faedah bagi pembacanya, terlebih lagi bagi pengarangnya.

Kebayoran Baru, Januari 1970.
Penyusun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close