PEMBUBARAN DAN NAFSU MENGUASAI

Tidak kedengaran suara-suara yang mengaku aktifis pengagas Demokrasi dan aktifis pengiat HAM saat pembubaran acara pengajian oleh ustad Khalid Basalamah. Berbeda dari biasanya, mereka bersuara kencang saat penolakan terhadap Syiah, pembubaran bedah buku-buki ‘kiri’ atau diskusi pemikiran Marxis, pengrusakan masjid Ahmadiyah, atau pengrusakan rumah ibadah lainnya.

Padahal biasanya mereka sinis terhadap kelompok anti Syiah, anti Komunis, anti China, anti Liberal, anti Ahmaddiyah, atau anti Barat dan Amerika namun lidah mereka kelu, suara mereka hilang terhadap kelompok anti Wahabi.

Ustadz Khalid Basalamah, seperti Ustadz lainnya yang tuduh Wahabi, setahu saya mereka tidak pernah mengajarkan kekerasan yang menyebabkan perpecahan, apalagi saling mengkafirkan. Mereka sangat nasionalis walaupun mereka cenderung apolitis, namun tentang kondisi kebangsaan mereka menghimbau jema’ah untuk patuh dan mendo’akan pemimpin dan negeri ini.

Jangankan untuk makar atau dan mencela pemimpin, bahkan jamaa’ah dihimbau untuk tidak ikut demonstrasi. Singkatnya mereka sangat jauh dari kata fundamental sebagai akar radikalisme.

Dalam hal khilafiah yang bersifat furu’, mereka mendudukkan adab silaturahmi yang baik dan dakwah yang santun. Kalau sedang membahas satu pokok masalah yang di dalamnya ada perbedaan pendapat antar-ulama, mereka selalu menunjukkan perbedaan itu berasal dari apa. Tentu tidak semua pendapat mereka saya setuju. sebagaimana pasti ada yang tidak saya setujui dari Cak Nun, Gus Dur,Habib Riziek dll. Mana mungkin kita setuju 100 persen pendapat orang lain. Meskipun mereka orang alim atau Ulama apalagi kelompok-kelompok(firqoh).

Itu yang saya tahu tentang salafy dakwah apolitis, saya memang tidak tahu tentang salafy Jihadi yang mereka sebut Wahabi sebagaimana Kolonial Inggris menyebutnya.

Beberapa tokoh negeri ini seperti Ahmad Heryawan, Habib Riziek, Ja’far Umar Thoyyib bahkan Ulil Abshar adalah alumni LIPIA yang merupakan pusat penyebaran dakwah salafy di Indonesia. Sama seperti alumni kampus sekuler lainnya, kita tidak dapat mengeneralisi ulah korupsi satu orang alumninya lalu menjustifikaasi bahwa kampus tersebut sarang koruptor. Seperti itu pulalah kiranya jika kita bandingkan Habib Riziek dengan Ulil Abshar.

Semangat membubarkan, bukanlah semangat para pencari ilmu dan kebijaksanaan. Semangat membubarkan adalah semangat menundukkan untuk menguasai.

****

Al Albana, Andalas, 06 Maret 2017

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close