BAHASA DAN GENDER

Hari ini, 21 April diperingati sebagai hari Kartini,hari kesetaraan gender, tokoh emansipasi wanita yang lahir di Jepara pada 21 April 138 tahun silam, meskipun yang diperjuangkan Kartini adalah akses wanita terhadap dunia pendidikan bukan seperti yang dinyiyirkan oleh feminis saat ini.

Berbagai seremonial yang dilakukan dalam memperingati hati kelahiran R.A. Kartini, murid TK hingga SD memperagakan pakaian daerah masing-masing, wanita karir berkebaya ke kantor bahkan sampai pusat perbelanjaan juga memberikan potongan harga khusus dalam rangka memperingati hari Kartini. Yang paling sibuk adalah kaum hawa. Padahal tidak satupun dari seremonial itu yang mengantarkan kita dapat meresapi kegelisahan-kegelisahan yang dirasakan kartini karena menyaksikan kaum hawa tidak punya akses pada dunia pendidikan. Tidak lain hanya membawa kita kepada budaya konsumtif.

Baiklah, saya tidak akan bahas tentang relasi berbagai seremoni dengan beraneka peragaan busana yang berasifat konsumtif terhadap esensi pesan perjuangan Kartini. Dan bukan pula perdebatan kepantasan perempuan lain yang lebih konkrit dalam memperjuangkan hak-hak kaum Hawa.

Misoginis adalah budaya Eropa yang dibawa oleh kolonial ke negara jajahan termasuk nusantara.

Sebelum kedatangan Kolonial pada awal abad ke 16, kedudukan laki-laki dan Perempuan di Nusantara sudah setara. Kedudukan perempuan kadang bisa lebih rendah namun juga bisa lebih tinggi. Tidak ada aturan yang melarang perempuan berkiprah di ruang publik. Kendati tidak sebanyak laki-laki, perempuan juga dapat kedudukan struktural birokrasi mulai yang paling rendah di pedesaan hingga yang paling tinggi yakni Raja. Sri Isanatunggawijaya puteri Mpu Sindok menduduki tahta kerajaan Medang (1037-1041). Dalam kerajaan Minangkabau juga dikenal Bundo Kanduang.

Mungkin kalau kita membicarakan sejarah sebelum kolonial terlalu jauh untuk mencari pembenaran bahwa kita [Nusantara] tidak ada masalah dalam kesetaraan gender.

Pendekatan Bahasa setidaknya menunjukan dalam hal kesetaraan gender kita lebih maju dibandingkan Eropa. Mari perhatikan kata ganti orang ketiga tunggal dalam Bahasa Inggris ; He untuk laki-laki dan She untuk wanita, sedangkan dalam Bahasa Indonesia tidak membedakan gender, baik laki-laki maupun perempuan hanya menggunakan Ia untuk orang ketiga tunggal.

Selanjut, dalam Bahasa Inggris ; Brother untuk saudara laki-laki dan Sister untuk saudara perempuan, sedangkan dalam Bahasa Indonesia cukup diwakilkan dengan kata Saudara bisa untuk laki-laki maupun perempuan.

Bahasa Indonesia sangat mengapresiasi usia, mari kita perhatikan kata ‘Adik’ atau ‘Kakak’, ‘adik’ untuk saudara yang lebih kecil sedangkan ‘kakak’ untuk saudara yang lebih besar, tanpa membedakan gender, baik kata ‘Adik’ maupun ‘Kakak’ sama-sama bisa digunakan baik untuk laki-laki maupun perempuan. Sedangkan dalam Bahasa Inggris tidak ada kata tunggal yang dapat digunakan untuk menjelaskan saudara yang lebih tua dan juga yang lebih muda, yang ada kata majemuk (lebih dari satu kata) yaitu Older Sister, Older Brother, Younger Brother dan Younger Sister.

Belum lagi jika kita sandingkan Bahasa Inggris yang sangat gender dengan Bahasa Daerah di Nusantara yang sangat mengapresisi usia, misalnya Pakde, Bude,Pakle’, Bule’ (Bahasa Jawa), atau Pak tuo, Pak etek, Mak tuo, Mak etek, dalam Bahasa Inggris hanya ada Uncle dan Aunty, tidak menjelaskan kakak atau adik dari orang tua. Bahkan ‘Mak’ dalam Bahasa Minang bisa digunakan untuk laki-laki maupun perempuan, sama seperti Eyang dalam Bahasa Jawa atau Ncing dan Ncang dalam bahasa Betawi yang sangat bias gender. Padanan kata seperti ini tidak akan ada dalam Inggris.

Namun sayang sekali kita tidak punya padanan kata ‘Parent’ dalam Bahasa Indonesia, kecuali kata majemuk yakni ‘orang tua’, kata ‘orang tua’ juga agak bias antara orang yang sudah lanjut usia dengan ‘orangtua’ bapak-ibu biologis.

Jelas sekali, bahwa dalam Inggris sangat kental sekali perbedaan gender sedangkan dalam Bahasa Indonesia sangat mengapresiasi terhadap usia. Itu di soal bahasa, sementara pada awal pembentukannya, bahasa pastilah cermin pandangan dunia para penuturnya.

Maka gerakan Feminis tak perlulah mengajari perempuan Indonesia tentang; Emansipasi Wanita, Kesetaraan Gender, Full Partisipasian Age atau apalah namanya. Semua itulah adalah penyakit Budaya Eropa yang ditularkan di Indonesia kemudian mereka datang lagi sebagai juru selamat dalam jubah gerakan feminisme.

****

Al Albana, Andalas, Hari Kartini 2017

Kategori Esai, Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close