Nasehat

Sebagai manusia modern yang rasional namun sebagian dari kita cenderung bersikap dan berlaku irasional. Mereka merasa belum menjadi penghuni planet bumi seutuhnya jika belum mengikuti perihal kekinian. Sebagian dari kita meletakan standar kebenaran bukan pada nilai kebenaran itu sendiri melainkan di pundak publik figur yang saban hari berlalu lalang di beranda sosial media atau di media cetak dan elektronik.

Misalnya dalam Keluarga ideal orang-orang menaruh standard keluarga bahagia pada kemesraan rumah tangga Anang-KD sebelum perceraian mereka pada 2009. Keharmonisan rumah tangganya,liburan keluarga, atau nama-nama anak mereka menjadi inspirasi pasangan yang akan atau yang baru menikah.

Bayak korban ‘pipi&mimi’ kala itu, bayi-bayi yang baru lahir ‘dipaksa’ mengganti panggilan ;Ayah, Bapak, Papa, Abi menjadi ‘Pipi’, begitu pula panggilan ; Ibu, Mama, Bunda, Ummi berganti ‘Mimi’. Bahkan saya curiga terjadi lonjakan bayi perempuan yang diberi nama Aurel rentang waktu 1998 hingga 2009.

Sejatinya seluruh keluarga yang biasa-biasa saja sudah bahagia, kecuali yang memang sedang bermasalah. Namun setelah orang-orang menonton ‘Golden Way Mario Teguh’, seorang isteri merasa suami tidak setransparan Pak Mario yang bersedia dompetnya ‘dipretelin Ibu Lyna, atau Sang suami merasa perhatian isteri tidak seperti Ibu Lyna, sehingga tidak tahu dasi dengan kemeja suaminya tidak matching.

“Semua akan kecewa pada waktunya, jika menjadikan manusia, terlebih lagi manusia yang masih hidup sebagai tolak ukuran kebenaran”.


Terbongkarnya kasus Sang Motivator keluarga telah membukakan mata kita bahwa media saat ini selain melahirkan simulakra, panggung media juga dijadikan ajang kepalsuan dan pencitraan. Dalam memenuhi hasrat ke’nabi’an manusia.

Jangan kaget pula jika untuk seterusnya rentetan dusta akan terkuak satu demi satu.
bukan tentang satu orang. Ini tentang buanyak sekali orang. Termasuk tentang dusta-dusta kita semua.

Semua serba mungkin, wahai sahabat Indonesia yang super.

Kasus sang motivator atau kasus perceraian keluarga bahagia idaman Pipi A*ang & Mimi K*is**y**ti beberapa tahun silam adalah bekal penting bagi kita, untuk terus meragukan “realitas”.

Namun saya teringat salah satu nasihat bijak dari Syaidina Ali Bin Abu Thalib ” Lihatlah (terimalah kebaikan dan nasehat) dari apa yang dikatakan (seseorang itu), dan tidak usah lihat atau perhatikan siapa yang mengatakan.

 

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close