Penistaan Beras

Kemajuan Tekhnologi membuat semua berjalan semakin cepat. Modernisasi menghadirkan dua sisi terhadap peradaban manusia, sisi baiknya dengan kemajuan teknologi dapat mempercepat dan mempermudah manusia dalam melakukan banyak hal, sedangkan sisi buruknya manusia semakin malas bergerak secara fisik. Misalnya kalau dulu mesti berdiri dan menghampiri TV untuk mengganti channel sekarang cukup pencet remote. Apalagi dengan semakin maraknya dunia digital, banyak sekali yang dapat dilakukan hanya dari kamar dengan bantuan smartphone, sehingga aktifitas fisik semakin sedikit. Kemajuan teknologi juga berimbas kepada tatanan sosial , kondisi kehidupan sosial yang semakin komplek membuat manusia mudah tertekan dan stres. Asap dari cerobong pabrik dan knalpot kendaraan bermotor yang mengakibatkan polusi, manusia pula yang tidak rajin berolahraga, malas jalan kaki, manusia pula yang membuat dirinya sendiri tidak bugar, tapi beras yang disalahkan. Lebih dari seribu tahun nenek moyang kita bahkan manusia yang mendiami Asia Tenggara hingga Jepang mengenal tanaman padi dan menjadikan beras makanan pokok dan mengolah aneka macam peganan dari beras.

Oleh karena kerakusan manusia pula yang membuat padi tidak tumbuh secara alamiah(organik). Dipaksa panen lebih cepat dan tentu lebih banyak dengan bantuan beraneka pupuk dan pestisida. Tapi ketika ada apa-apa yang menyangkut kesehatan, beras lagi yang disalahkan.

Kalau memang beras pokok dari persoalan yang membuat orang sakit lalu mati menurut ahli diet, mestinya manusia Indonesia bahkan Asia Tenggara sudah punah sejak dulu. Dan baru satu dekade ini, beras begitu dihina dan disalahkan, seakan tidak pernah menjadi elemen penting bagi kebudayaan kita. Mau sampai kapan kita berpikir dengan cara seperti itu? Sampai semua kita berganti makanan pokok dengan sereal, oatmeal dan lainnya yang berbahan dasar dari gandum hasil pertanian yang tidak ditanam oleh bangsa sendiri melainkan import.

Saya mungkin termasuk orang yang bergaya hidup kurang sehat. Tapi saya tidak akan melempar kekeliruan (malas olahraga, doyan konsumsi makanan instant, pola konsumsi yang salah) saya kepada beras. Beras sudah ada dalam kehidupan sejak dulu, membuat kenyang nenek-moyang, orangtua, dan diri saya. Dan saya berharap, anak-cucu saya tetap memakan beras. Syukur beras yang tidak disemprot dengan pestisida buatan kita-Manusia rakus.

Sejak kecil saya sudah terbiasa makan nasi tiga kali sehari. Dan itu akan terus berlanjut hingga nanti. Yang pasti tidak akan berganti dengan oatmeal atau sereal. Kalau ada yang mesti diubah mungkin porsinya akan disesuaikan mengigat semakin bertambah usia dan proses metabolisme dalam tubuh. Serta akan diimbangi dengan giat berolahraga.

Padang, 18 Safar 1439

 

Kategori Esai, Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close