ON THIS DAY SIX YEARS AGO

Setiap ibu sejatinya punya cara sendiri-sendiri dalam mendidik dan membesarkan masing-masing anaknya. Karena setiap orang adalah individual yang unik. Bahkan dari 7 milyar penghuni bumi, tidak seorang pun secara keseluruhan memiliki ciri fisik yang percis sama meskipun kembar identik sekalipun pasti ada perbedaannya. Apalagi cara berfikir masing-masing anak dalam merespon nasihat dan perintah orang tua.

Ibu saya tidak pernah ikut kelas parenting bahkan ada rela membayar hingga jutaan rupiah seperti yang sedang digandrungi ibu-ibu jaman now. Amak juga tidak berpendidikan tinggi. Hanya perempuan desa. Seorang ibu yang tidak punya teori parenting ala Ibu x atau selebritis z. Seorang ibu yang menginginkan anak sholeh itu saja.

Ketika saya memasuki akil balig, melihat sholat saya masih bolong-bolong sekenanya tanpa uzur atau mengulur-ulur waktu dalam mendirikan sholat. Dengan ekspresi yang tenang dan intonasi yang lembut mengalir dari bibirnya ; “Kita mesti bersyukur atas segala kemudahan yang telah Allah berikan kepada kita saat ini. Jika ingin sholat cukup berjalan beberapa langkah ke kamar mandi buka kran lalu berwudhu dan dirikan sholat. Coba bayangkan betapa berat dan susahnya orang-orang terdahulu sebelum kita mesti mencari sumber air dengan berjalan kaki ke sungai yang jauh atau menimba sumur terlebih dahulu untuk berwudhu sebelum mendirikan sholat” paparnya.

Ketika saya malas pergi sholat berjamaah ke Surau yang berjarak hanya puluhan meter beliau menasehati ; “Selagi masih muda dan sehat, pergunakanlah kesempatan dan kesehatan untuk sholat berjamaah ke Surau, nanti kalau sudah tua seperti Uwo (Nanek), hatinya bergetar saat mendengar Adzan namun apadaya kakinya sudah tidak kuat mengantarkannya ke Surau”.

Begitu pula halnya kalau beliau jarang melihat saya baca Qur’an “Gunakanlah mata saat masih terang untuk mengaji nanti kalau sudah tua,mata sudah mulai kabur, susah melihat huruf, baca satu halaman saja mata sudah perih dan berair seperti Amak”, nasehatnya.

Pesan pesan sederhana, tanpa visualisasi betapa mengerikannya neraka seperti yang dipresentasikan oleh seorang motivator beberapa tahun silam. Dan tidak pula tentang hedonis surga dengan 72 bidadari super cantik yang selalu perawan seperti yang menjadi kontroversi Ustadz seleb tempo hari. Namun pesan amak hampir selalu hadir diingatan saya dan terngiang-ngiang di telinga saat semangat beribadah yang fluktuatif berada pada titik nadir. Saya menduga karena motivasi yang disampaikan seorang ibu ikhlas yang hanya berharap ganjaran dari Allah. Berbeda dengan petuah bijak yang disampaikan oleh motivator berbanderal dan Ustadz Seleb bertarif.

Hari ini 6 tahun lalu. Saya bersama Abang dan Ajo Win berada disebuah lubang galian yang berukuran 2×1 m sedalam 1,5 m untuk menerima jenazah amak, lalu kami mememasukannya ke sebuah liang yang sangat sempit di sisi sebelah barat. Mengarahkan wajahnya ke kiblat dan melepaskan tali pengikat pada kafannya. Seterusnya menutup liang itu dengan beberapa lembar papan. Setelah papan menutup sempurna lalu saya berdiri untuk mengumandangkan adzan diikuti iqamat sebagai pengiring beliau menuju fase kehidupan selanjutnya. Alam Barzah. Saya dan kita semua tentu ingin hidup dengan usia panjang tapi secara biologis mustahil manusia setua gunung atau batu. Semua kita sedang menuju kesana persinggahan menuju sebelum sampai pada tempat yang kekal dan abadi

Selesai Iqamat, saya masih di dalam lubang galian itu, perlahan-lahan orang mulai mondorong tanah di bibir galian itu dengan pelan-pelan untuk menimbun kembali. Bendungan airmata saya jebol, lautan airmata yang sejak semalam tertahan di pupuk mata pecah bercampur dengan keringat membanjiri wajah hingga leher. Setelah timbunan tanah mencapai dengkul seorang mamak mengulurkan tangan dan meminta agar saya keluar dari galian itu. Semakin lama orang-orang semakin cepat menutup galian itu lagi hingga tertutup sempurna bahkan sedikit mengunduk.

Uda labai memimpin pembacaan do’a ;

Allahummaghfir laha warhamha, wa ‘aafihi wa’fu ‘anha, wa akrim nuzulaha, wa wassi’ mudkhalaha. Waghsilhu bil maa-i wats tsalji wal barad. Wa naqqihi minadz dzunuubi wal khathaayaa kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minad danas. Wa abdilhu daaran khairan min daarihi, wa zaujan khairan min zaujihi. Wa adkhilhul jannata wa a’idz-hu min ‘adzaabil qabri wa min ‘adzaabin naari.”

*

“Ya Allah, ampuni dan rahmatilah dia. Lindungilah dia dari perkara yang tidak baik dan maafkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskan/ lapangkanlah tempat masuknya. Basuhlah ia (dari bekas-bekas dosa) dengan air, salju dan es. Sucikanlah dia dari kesalahan-kesalahannya sebagaimana engkau mensucikan pakaian putih dari noda. Gantikanlah untuknya negeri yang lebih baik daripada negerinya, keluarga yang lebih baik daripada keluarganya dan pasangan yang lebih baik daripada pasangan hidupnya. Masukkanlah ia ke dalam surga, lindungilah dia dari adzab kubur dan adzab neraka.”

Saya dan seluruh pelayat yang hadir meng-amin-kannya. Gerimis halus menjelang siang mempercepat langkah pelayat meninggalkan gundukan tanah basah itu.

Hari ini tepat enam tahun berlalu, nasehat-nasehat dengan cara yang sederhana itu, insyaallah mengendap dalam ingatan dan semoga tidak ‘mengering’ seiring berjalannya waktu.

****

Al Albana, Andalas 12 Rabiul Awal 1439

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close