Perihal Perayaan

DearAlwi

Belakangan ini , rasa-rasanya tidak ada yang luput dari perdebatan yang berujung pro-kontra di negeri ini?. Para penjaga moral seakan-akan tidak pernah kehabisan bahan untuk saling bersitegang urat leher di media sosial. Mulai hal remeh seperti kehadiran goup vocal k-pop dari negeri gingseng hingga perayaan Hari Kartini, Perayaan Valentine, Hari Pahlawan sampai perayaan Hari ibu yang berlansung beberapa hari yang lalu. Apalagi perayaan Natalan dan tahun baru sebentar lagi.

Kita tak perlu ikut-ikutan meributkan perihal itu. Lagi pula Bundamu dan terlebih saya bukanlah penyuka perayaan atau seremonial semacam itu. Buktinya kami tidak pernah merayakan happy unniversary, ulang tahun kami masing-masing termasuk juga ulang tahunmu yang sudah tujuh kali berlalu. Tidak ada keu tart, kado apalagi lilin.

Seingat saya seumur hidup baru sekali meroggoh dompet untuk merayakan ulang tahun diri sendiri. Itu terjadi jauh hari sebelum kamu ada. Ketika masih kuliah dulu, dengan mentraktir sekitar empat belas teman di kantin kampus. Kantin Kadoska. Itu pun karena terpaksa dan sangat sederhana dan irit jika tidak ingin di sebut memprihatinkan. Ketika menghadap kasir saya cukup menyerahkan selembar pecahan rupiah paling besar (saat itu dan juga sekarang). Dengan sedikit kedipan itupun saya masih menerima uang kembalian.

Walaupun begitu kita harus menghormati orang-orang yang mengekpresikan perasaannya dalam seremonial. Apapun bentuk seremonial itu. Jangan pernah terlintas dibenakmu bahwa mereka yang merayakan hari ibu hanya berbakti pada hari ibu saja, lain hari tidak. Jangan pula merasa bahwa kamu merasa lebih berbakti dari mereka yang merayakan. Karena tidak menjadi ukuran bahwa yang merayakan hari ibu lebih berbakti dari yang tidak merayakan begitu juga sebaliknya.

Perlu kamu ketahui juga bahwa ada beragam aktifitas orang di dunia ini dalam menjalani kehidupan. Semua berbeda dengan kegiatan yang tak sama. Ada yang mesti terpisah jauh dari ibunya karena alasan sekolah atau bekerja. Berbeda kota atau bahkan berbeda negara yang berjarak ribuan mil.

Lalu ada yang mengkhususkan pada hari ibu untuk memberikan yang istimewa untuk ibunya. Misalkan mengajak liburan, menyediakan makan spesial atau memberikan seikat kembang. Saya rasa itu wajar. Tak perlu dipermasalahkan.

Anakku! Kita boleh tidak menyukai sesuatu namun kita tidak boleh memaksa orang untuk tidak menyukai seperti kita. Tidak semua yang tidak kita suka mesti kita benci. Rasullulah junjungan kita tidak menyukai jeroan namun beliau tidak membenci orang yang memakan jeroan. Apalagi mengharamkan.

Sebagian orang di media sosial acap kali memaksakan orang untuk ikut membenci yang tidak disukainya, atau mengajak orang memusuhi lawannya. Ada orang sibuk membagikan tautan tentang haram merayakan ulang tahun, tapi lain waktu mengunggah photo saat ditraktir sahabat atau kolega merayakan hari lahir dengan tagger Met Milad ,….. Atau ada orang marah besar saat mendengar desas-desus Istana akan mengundang Girlband K-Pop dari negeri Gingseng, dalam rangka memeriahkan ulang tahun kemerdekaan, ehh beberapa bulan kemudian mengunggah photo di media sosial sedang mengantar anak perempuan ikut audisi K-Pop. Ini jangan dditiru mereka mengalami cacat logika.

Pada tanggal 22 Desember lalu, secara tak sengaja saya mendengar sebuah video yang disebarkan di facebook. Seorang Ustadz seleb dengan berapi-api mengimbau ummat tidak merayakan hari ibu karena perayaan hari ibu bukan budaya Islam dan berasal dari kaum Kaffir. Saya bergidik mendengarnya tidak sempat seperti kamu yang ‘terbelasut’ saat minum ketika mendengar Sule menyebut nama Robert Einstein bukan Albert Einsten pada acara Ini Talkshow. Jadi kata beliau perayaan hari ibu pada 22 Desember berasal dari kaum kafir (Eropa). Mungkin karena beliau Ustadz jadi sah-sah saja membenci yang tak ia suka termasuk mengada-ada.

Nak, jika tiba saatnya kita harus bicara sebagai sesama lelaki, ada satu pertanyaan yang harus kita jawab sama-sama. Itu kalau kita bisa. Tapi saya yakin kita tidak bisa. Tentang bagaimana kita mengukur dan memahami kasih seorang ibu.
Sangat panjang jalan yang harus ditempuh oleh seorang ibu untuk bisa seperti sekarang. Karena kita sama-sama laki-laki yang tak punya rahim, saya yakin kita tidak akan pernah dapat mengukur betapa besar kasih dan sayang seorang ibu kepada anaknya. Saya yakin hanya kaum hawa yang pernah hamil, melahirkan, menyusui dan membesarkan anak yang benar-benar dapat merasakan betapa besar kasih dan sayang seorang ibu.

Di waktu kita kecil. sering dikisahkan riwayat Ibunda Siti Hajar yang berlari-lari di gurun gersang untuk mencari air bagi Ismail yang kehausan. Dari sana kita tahu betapa kasih seorang ibu membentuk tapak sejarah yang tak pernah lekang. Sumur Zam-Zam.

Tapi ibu juga tidak selalu mendapat tempat yang baik di tangga zaman.
Ada banyak masa ketika mereka sebagai perempuan- ditelantarkan dan digelapkan. Bahkan pada zaman jahiliyah, kaum Quraish akan merah padam mukanya saat mendapati anaknya lahir perempuan. Sebagian lagi mengubur bayi perempuan yang baru lahir hidup-hidup. Sebagian riwayat mengkisahkan Umar bin Khattab sebelum memeluk Islam pernah mengubur bayi perempuan yang baru lahir.

—-

Tahun 1928, 15 orang ibu berkumpul di Joyodipuran Mataram pada beberapa malam di penghujung bulan Desember dan mencoba menyuarakan pendapatnya. Ada seorang ibu, namanya Djami, membacakan isi hatinya:
Doeloe, waktoe saja masih ketjil, djika kaka saja maoe pergi mengail, kailnja saja pegang agak sebentar, marah ia amat sangat. Hai, djangan, katanja. Djangan, nanti saja ta beroleh ikan.

Sedjak dari ketjil kita kaoem perempoean telah ditjela, dinista oleh kaoem laki-laki. Ja, oleh maatschappij (masyarakat), sesoenggoehnja.

Petikan kalimat itu adalah bagian dari pidato Bu Djami yang berjudul Ibu yang dibacakannya pada Kongres Perempuan Pertama tanggal 22-25 Desember 1928. Dalam kongres ini, Djami mewakili perkumpulan Darmo Laksmi dari Salatiga. Perhelatan kongres ini pula yang kemudian menjadi cikal bakal Hari Ibu Nasional yang kita peringati tiap tahun sekarang.

Begitulah sejarah mencatat bahwa hal yang kita sebut ketidakadilan itu pernah begitu lekat dalam kehidupan seorang perempuan.

Jadi pahamkan Nak, bahwa hari ibu yang dirayakan setiap 22 Desember bukan berasal dari kaum Kafir. Dan juga tidak dirayakan oleh kaum Kafir pada saat bersamaan.

Bodoh boleh goblok jangan. Karena orang bodoh akan mencari tahu sedangkan yang goblok sibuk memberi tahu apa-apa yang ia tidak tahu sampai mereka tidak tahu akan yang diberitahukannya.

****

Al Albana, Andalas, 06 Rabiul Awal 1439

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close