Prabowo Next Presiden Setidaknya Calon Presiden

Hampir pasti, pada 2019 Prabowo Presiden RI kedelapan, setidaknya Calon Presiden lagi seperti yang sudah-sudah. Tapi bagaimana dengan Jokowi?

Jokowi belum tentu jadi Presiden lagi, bahkan untuk jadi calon presiden juga belum pasti. Meski sudah mendapat dukungan dari Golkar dan Nasdem, langkah Jokowi untuk maju pada Pilpres mendatang masih cukup berat dan panjang.

Kita tahu, sikap Partai dalam mendukung atau mencabut dukungan layaknya seperti ganti pakaian saja. Sudah menjadi hal yang biasa bagi Partai Politik, terlebih Partai pemain lama seperti Golkar. Yang teranyar Golkar mencabut dukungan kepada Ridwan Kamil pada Pilgub Jawa Barat yang akan dihelat sebentar lagi.

Sebenarnya tidak hanya Golkar, hampir semua Parpol atau Pemain Politik seperti itu. Siang bersitegang, malam duduk dengan tenang untuk berbincang tentang uang atau sebaliknya. Fenomena ini terlihat sangat kasat mata pada manuver-manuver Parpol dengan bongkar-pasang bakal calon pada Pilgub Jawa Barat.

Pernyataaan dini dari Golkar kemudian diikuti oleh Nasdem dalam mengusung Jokowi pada Pilpres mendatang bagi sebagian orang dianggap terlalu tergesa-gesa. Tapi Parpol yang bersangkutan pasti sudah menghitung dengan kalkulator berlapis emas sehingga hasilnya berbeda dengan hitungan kita.

PKB sangat cerdik dalam masa kampanye pada Pileg 2014 lalu. Mereka menjual nama H. Rhoma Irama, Ahmad Dhani, Cak Imin dan Mahfud MD sebagai calon presiden atau wakil presiden. Dengan cara ini berhasil melambungkan perolehan suara PKB dengan mendapatkan suara sebanyak 11.298.957 setara dengan 47 kursi di DPR-RI hampir dua kali lipat dibanding Pileg 2009 hanya 5.146.122 suara setara dengan 27 Kursi DPR-RI.

Namun setelah Pileg usai tak satupun dari nama-nama itu menjadi calon Presiden atau Wakil Presiden yang diusung PKB, bahkan Mahfud MD, Rhoma Irama dan Ahmad Dhani bergabung menjadi jurkam Prabowo-Hatta, berseberangan dengan PKB yang mendukung Jokowi-JK. Mungkin juga cara-cara PKB ini yang sedang dicopy paste oleh partai yang telah mendeklarasikan pencalonan Jokowi.

Melihat belum ada signal dari PDI-P (Megawati) akan mengusung ‘Petugas Partai‘ ini pada Pilpres mendatang membuat Jokowi makin asyik masyuk dengan mainan barunya, Golkar namanya.

Idrus Marhan yang menyebut Jokowi selevel manager sedangkan Prabowo pemimpin pada masa kampanye 2014 lalu, ditarik masuk kedalam kabinet menggantikan Khofifah sebagai Menteri Sosial. Sebelumnya Golkar yang telah bertekuk lutut telah menempatkan Airlangga Hartanto sebagai Menteri Peridustrian di kabinet Jokowi. Dan kedua menteri dari Golkar itu dipersilakan Jokowi rangkap jabatan di Partai sebagai Ketua Umum dan Sekjen. Duh Golkar nikmat Jokowi manalagikah yang akan kalian ingkari!

Kita tahu Megawati sudah tidak muda lagi, beberapa hari yang lalu telah merayakam ulang tahun yang ke-71, tentunya di usia senja beliau akan sangat bahagia jika menyaksikan puterinya–Puan Maharani di Kursi Kepresidenan seperti dia dan Bapaknya pernah duduki. Menunggu 2024 itu terlalu lama untuk Megawati. Bahkan pada 2014 silam menunjuk Jokowi hanyalah sebuah keterpaksaan, karena Puan belum matang dan punya kans yang cukup untuk dimajukan sebagai calon presiden.

Selainnya itu kegusaran Jokowi tidak mendapatkan tiket dari Mbak Mega dan PDI-P membuat Jokowi semakin dekat dengan militer. Ini bisa diartikan juga sebagai strategi memecah dukungan militer. Agar pada Pilpres mendatang tidak berporos pada Prabowo.

Agum Gumelar dan Moeldoko masuk kedalam ring satu kepresidenan sebagai Dewan Penasehat Presiden. Sedangkan di kabinet juga sudah ada Luhut B Panjaitan, Wiranto dan Ryamizard Ryachudu. Jokowi pun memberdayakan tiga purnawirawan diantara sembilan anggota Dewan Penasehat Presiden saat ini. Sedangkan pada masa SBY hanya satu purnawirawan.

Apakah supremasi sipil yang dicetus Gus Dur kandas di tangan Jokowi?, atau ini hanya strategi jangka pendek Jokowi dalam menghadapi Pilpres 2019.

Koalisi Merah Putih yang diinisiasi Gerendra dan Prabowo memang sudah lumpuh sejak jauh hari, namun perlu dicatat bahwa partai atau koalisi partai hanya sebagai pengusung, sedangkan hasil Pilpres ditentukan oleh jumlah suara sah dari pemilih (rakyat).

****

Al Albana, Andalas 06 Jumadil Ula 1439

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close