Terbelah atau Sebatas Identitas

Orang indonesia itu perilaku konsumsi identitasnya zig zag, susah ditebak, bikin bingung. Menurut riset ekonomi semakin melemah namun dijalan raya kendaraan semakin bertambah, jalanan semakin macet. Daya beli menurun namun tiket konser Celine Dion yang berbanderol hingga 25 juta ludes dalam waktu sekejap. Hidup semakin susah tapi destinasi wisata semakin ramai dan bertambah. Hari minggu pusat perbelanjaan dan resto padat. Di sisi spritual pun demikian ; mereka makin hari makin saleh, makin syar’i, makin konsumtif terhadap segala hal berbau agama.

Hampir seluruh pejabat muslim sudah menunaikan ibadah haji. Umroh berkali-kali, bahkan balita juga sudah diusung ke Tanah Suci. Biro perjalanan Haji dan Umbroh menjamur walaupun tak sedikit yang bermasalah. Para orang tua bersemangat mengantarkan putera-puterinya ke Sekolah Islam Terpadu. Rumah Tahfidz mulai tumbuh. Jika kita mampir ke Instagram Bakul Hijab dengan aneka macam style terbaru memenuhi beranda. Log in Youtube dan facebook massaallah tausiah dari ustaz terkenal dan terpercaya hingga yang berlagak jadi Ustaz, berpura-pura Ustaz atau yang diustaz-Ustazkan tinggal pilih yang sesuai dan disukai untuk ditonton dan dibaca. Datang bulang Ramadhan penyanyi dan artis bermotamorfosis menjadi dengan mengeluarkan single religi atau berperan dalam sinetron religi. Di televisi semua acara talkshow dan komedi disulap bersuasana religi. Di penghujung Ramadhan menyambut Idul Fitri, untuk merespon konsumsi yang meningkat tinggi pramuniaga dan pramusaji di Mall dan Resto didandani seperti santri.

Namun di lain sisi, pejabatnya semakin gemar korupsi, narkoba dan pergaulan bebas menjadi identitas generasi muda, setiap hari kita disajikan oleh media berita kriminal ; ada anak yang membunuh ibunya, seorang guru meregang nyawa akibat hantaman siswa, mayat tanpa identitas mengambang di kali, seorang diduga pencuri dibakar hidup-hidup, tauran massal karena masalah sepele, pengajian bubarkan akibat tidak sepaham dengan da’i dan materi, dan lain sebagainya.

Menyaksikan kedua perbedaan yang kontras ini kadang menyakinkan saya bahwa mayarakat indonesia memang sedang mengalami pembelahan. Seperti halnya kesenjangan ekonomi akibat kapitalis; jurang antara miskin dan kaya semakin menganga. Begitu pula kiranya terjadi pada kehidupan spritualitas kita ; yang sholeh semakin sholeh yang jahiliyah semakin jahiliyah.

Atau mungkin saja karena agama hanya dijadikan sekadar identitas belaka bukan jalan hidup?

****

Al Albana, Andalas, 28 Jumadil Ula 1439

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close