Manusia Kertas

Enam bulan lalu isteri saya kepeleset hingga keseleo kakinya. Pagi itu saya mengantarnya ke Tukang Urut yang sudah biasa kami menggunakan jasanya. Nenek Mawar kami menyebut namanya.

Sementara isteri sedang berberes untuk berangkat saya menunggu di beranda. Keponakan kami mohon pamit berangkat kuliah. Ia mahasiswa baru di sebuah Perguruan Tinggi Swasta di Kota ini. Mahasiswa Fakultas Kedokteran gigi.

Di perjalanan Isteri bercerita bahwa Nenek Mawar adalah generasi kedua yang mewarisi keahlian memijat dan Dukun Beranak dar ibunya. Beliau sudah mendapat sertifikasi dari Dinas Kesehatan dalam membantu proses persalinan.

Sembari menyaksikan Nenek Mawar beraksi memijat urat-urat kaki isteri yang keseleo, saya teringat kepada keponakan yang tadi berangkat Kuliah. Ia kuliah di Kampus tempat ibunya juga sebagai Dosen. Ibunya berprofesi sebagai Dokter yang buka Praktek di Rumah sekaligus juga Dosen.

Saya membandingkan Nenek Mawar dengan Keponakan. Dua orang yang sama ingin menempuh jalur profesi yang sama dengan ibu mereka masing-masing. Yang membedakan ; Nenek Mawar tanpa melalui institusi pendidikan formal. Barangkali dimulai dengan membantu-bantu ibunya dalam menangani proses persalinan, sambil mendengarkan teori-teori yang berhubungan dengan persalinan. Kendala atau kesulitan apa saja yang mungkin terjadi. Bagaimana mengatasinya. Saya rasa tak ada Kitab atau Diktat tebal yang perlu dia dibaca dan hafalkan. Apalagi ujian tulis yang hasilnya dikonversi dalam angka-angka. Kalau bisa disebut ujian mungkin saja ketika ibunya saat berhalangan sehingga mengutus Nenek Mawar mendampingi proses bersalin. Ijazahnya adalah kepercayaan dari ibu-ibu yang akan melahirkan.

Berbeda dengan keponakan saya tadi, namanya harus tercatat di Jurusan Kedokteran Gigi. Ada syarat yang haruf dipenuhi agar namanya dicatat seperti mengikuti seleksi tes dan tentu juga uang masuk, uang semester dan uang-uang lainnya dengan berbagai macam sebutan yang tidak sedikit. Setelahnya membaca dan menghafalkan Kitab dan Diktat setebal bantal. Ujian dengan berbagai macam jenis dan namanya yang hasilnya dikonversi kepada selembar kertas yang disebut ijazah. Baru dapat gelar Sarjana Kedokteran. Agar bisa menulis gelar Dokter (Dr) didepan nama harus Koas (Co Assistant) kurang lebih dua tahun. Cukup? Ternyata belum untuk Buka Praktek Dokter harus mengabdi dulu di desa terpencil yang biasa di sebut PTT (Pegawai Tidak Tetap) selama dua tahun. Waktu habis untuk mengejar berlembar-lembar kertas (Ijazah, sertifikat, Surat Izin, Kartu Anggota IDI dan lain sebagainya)

Setelah melalui tahap-tahap yang panjang mulai dari Kuliah hingga mendapatkan izin praktek dari dinas kesehatan apakah orang-orang lansung percaya dan berdatangan. Belum tentu. Jika tidak sabar bergabung dengan Rumah Sakit atau Klinik yang sudah punya reputasi.

Sungguh suatu proses tranfer ilmu yang rumit, butuh energi dan biaya yang besar serta waktu yang panjang jika dibandingkan dengan jalan yang ditempuh Nenek Mawar.

Kita hidup era Modern. Identitas kita sematkan pada selembar kertas. Andai saja kita bukan ‘Manusia Kertas’ tentu saja keponakan saya tak perlu Kuliah, Co Ass, PTT dan segala tetek bengek itu. Cukup belajar lansung kepada ibunya yang Praktek setiap hari di rumah. Dan membaca kitab dan diktat tebal milik ibunya untuk pelengkap teori.

Dengan menjadi ‘Manusia Kertas’ biaya transfer ilmu (pendidikan) menjadi hal yang mahal dan mewah Inilah yang terjadi saat ini. Dampaknya biaya kesehatan tidak terjangkau oleh masyarakat lemah. Kaum buruh yang hidup di celah-celah sempit kota besar lebih memilih menahan sakit daripada datang ke Rumah Sakit. Nelayan dan Petani di pesisir dan pedalaman terpaksa datang ke Dukun meski sering ditipu, karena itu yang mereka bisa. Mereka datang ke Puskesmas dokter jaga tidak pernah ada. Sekali-kali ada juga dilayani dengan kasar . Sedikit sekali dokter yang mau datang ke pelosok dan pedalaman karena tidak BEP dengan biaya kuliah ujarnya. Bagi mereka PTT hanya untuk memenuhi syarat agar dapat izin praktek di kota. Tentu saja untuk cepat kaya.

Tapi kalau keahlian seseorang tidak diikatkan pada selembar kertas bagaimana cara mengontrol, jika terjadi malpraktek atau pelanggaran kode etik. Itulah alasannya. Benar. Dengan selembar kertas penting dalam untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan diatas. Pemerintah telah melakukan tindakan preventif. Walaupun akibatnya biaya pendidikan dan kesehatan tidak terjangkau oleh rakyat.

Tapi siapakah yang dapat menjamin tidak terjadi malpraktek dan pelanggaran kode etik?

Justeru belakangan ini semakin marak terjadi malpraktek dan sungguh memalukan justeru terjadi di Rumah Sakit Besar berskala International. Apalagi pelanggaran Kode Etik. Masih hangat diingatan kita Dokter yang jadi tersangka dalam kasus Se*N*v, masih ingat kasus ‘koin untuk Prita’ pada tahun 2009 lalu. Atau koruptor yang berlindung pada surat keterangansakitdari dokter opportunis agar tidak diperiksa KPK. Bahkan mantan Presiden Soeharto sampai akhir hayatnya dilindungi oleh surat ‘keterangan sakti’ yang diterbitkan oleh Dokter Bersertifikasi dari sentuhan pengadilan.

Dengan melihat adanya kasus-kasus tersebut, permasalahan tentang ijazah ini hanyalah bagian kecil dari sebuah gunung es. Inti masalahnya bukan hanya sekedar seorang individu yang sedang mencari pengakuan melalui cara yang salah. Lebih jauh, fenomena ini menunjukkan adanya permasalahan sistemik yang diwariskan dari generasi ke generasi oleh masyarakat kita sendiri.

Disadari atau tidak, masyarakat memiliki andil besar dalam meluasnya pandangan yang salah tentang mendewakan “skor nilai” dan “peringkat.” Klaim bahwa nilai akademik dan prestasi angka di sekolah menentukan kualitas seseorang menjadi begitu mengakar dalam masyarakat kita. Definisi kualitas itulah yang kemudian dianggap sangat menentukan pencapaian masa depan seseorang yang meliputi: uang, properti, ksejahteraan dan pengakuan sosial.

Kalau sudah begini, kadang saya berfikir; modernisasi pada bagian dan tingkat tertentu tak lebih dari perumitan-perumitan masalah agar terlihar ‘gagah’ tentu saja mewah. Sebagai identitas masyarakat modern.

Ibnu Sina, punya berapa sertifikat ya?, kuliah dimana?, ada izin praktek nggak ya?

****

Al Albana, Andalas, 07 Jumadil Akhir 1439

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close