Resensi Buku Dari Minangkabau Untuk Dunia Islam (Otobiografi Syekh Ahmad Khatib al Minangkabauwy)

Judul : Dari Minangkabau Untuk Dunia Islam

Penulis : Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabauwy

Penerjemah ; Zulhamdi Malin Mudo, Muhammad Husni, Afdhil Fadli

Penerbit : Gre Publishing

Jumlah Halaman : X + 161

Cetakan Pertama : 2016

*******

Otobiografi ini merupakan manuskrip yang beliau tulis empat bulan sebelum wafat. Ditulis dalam bahasa Arab yang beliau beri judul “Perkataan Yang Ringkas Terhadap Riwayat Hidup Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabauwy”

Nama Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabauwy tidak asing lagi bagi masyarakat Nusantara terutama di Minangkabau. Beliu adalah Guru dari ulama-ulama Nusantara dan Semenanjung Melayu. Murid-muridnya ; Dr. H. Abdul Karim Amrullah (Ayah Buya Hamka) Pendiri Thawalib Sumatera, Syekh Abdullah Ahmad pendiri Yayasan Adabiah, KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), Syekh Sulaiman Ar Rasulli pendiri PERTI dan MTI, Syekh Jamil Jambek, Syekh Ibrahim Musa Parabek, Syekh Jamil Jaho, Syekh Muhammad Nur (Mufti Kerajaan Langkat), Syekh Hasan Ma’sum (Mufti Kerajaan Deli), Syekh Muhammad Shaleh (Mufti Kerajaan Selangor), Syekh Muhammad Zein (Mufti Kerajaan Perak), H. Agus Salim, dan banyak lainnya.

Beliau merupakan Imam pertama Non Arab di Masjidil Haram. Terlahir di Koto Tuo-Agam pada 6 Zulhijjah 1276/26 Mei 1860. Nama lengkapnya Ahmad Khatib bin Abdul Latif bin Abdullah Kalan, Berasal dari keluarga yang taat dan berpendidikan.

Nagari tempat kelahirannya-Kota Tuo merupakan pusat pendidikan agama yang sangat kental dengan nuansa tasawuf. Dari sini juga Tuangku Nan Tuo-salah seorang ulama pembaharu di Minangkabau-membuka lembaga pendidikan melalui Surau yang telah melahirkan banyak ulama. Diantaranya Tuangku Imam Bonjol, Tuagku Nan Renceh. Kondisi lingkungan yang penuh samangat pembaharuan ini memberikan pengarug yang sangat besar dalam diri Syekh Ahmad Khatib.

Pada usia 11 tahun (1871), Ahmad Khatib dibawa ayahnya meninggaljan Minangkabau menuju Makkah untuk melaksanakan haji dan selanjutnya menetap di sana untuk belajar islam. Guru pertamanya Abdul Hadi, seorang muallaf Inggris yang masuk Islam di Mesir dan pindah ke Mekkah untuk mengajar Al Qur’an. Selanjutnya ia belajar ke Syekh Ustman Syatha, dan dua orang saudaranya Umar Syatha dan Ibnu Said Satha.

Setelah empat tahun di Makkah ibunya-Limbak Urai memintanya untuk pulang karena tidak tahan berpisah dengan anak sulungnya ini. Di Minangkabau beliau melanjutkan menuntut ilmu kepada Tuagku Mudo di Koto Tuo mempelajari kitab Minhaj at Thalibin dan tafsir Jalalain.

Hampir dua tahun di kampung halaman, ia merasa rindu ingin kembali ke Makkah dan selalu berdo’a agar dibukakan jalan untuk dapat kembali menuntut ilmu ke Makkah. Akhirnya do’a itu terkabul ketika kapal yang membawa Syekh Ustman Syatha bersandar di Teluk Bayur. Guru yang pernah mengajarnya dulu merapat ke Padang sejenak sepulang lawatan dari Jawa menuju kembali ke Makkah.

Syekh Ustman Syatha menemuinya dan meminta izin kepada Ayah dan seluruh keluarganya di Minangkabau untuk membawa Ahmad Khatib kembali ke Makkah agar bisa dididiknya dengan baik.

Pada 1294 H, Ahmad Khatib kembali ke Makkah dan menetap di rumah Ummu Shalih–mantan mertua Ayahnya. Ayahnya pernah menikah dengan Puteri Ummu Shalih yaitu Maryam binti Syekh Ahmad Khalidi.

Kecerdasan dan kesholehan Ahmad Khatib menarik perhatian Syekh Shalih al Kurdi, seorang bangsawan dan hartawan Mekkah yang berasal dari bangsa Kurdi. Akhirnya Ahmad Khatib dinikahkan dengan Puteri beliau yaitu Khadijah pada 1296 H. Syekh Ahmad Khatib menikah untuk yang kedua kalinya dengan Fatimah, kakak kandung Khadijah setelah Khadijah meninggal.

Sekitar 1298 H, Syekh Ahmad Khatib mulai mengajar di Masjidil Haram dalaam usia 38 tahunn. Kemudian diangkat menjadi salah satu ulama Mahzab Syafi’i dan mulai berkhutbah di mimbar Masjidil Haram.

Murid-murid dari Minangkabau dan berbagai Nusantara berdatangan ke Makkah. Selain banyak mendidik banyak murid yang belakangan menjadi ulama besar di Minangkabau dan Nusantara beliau juga menghasilkan sejumlah karya tulis sebanyak 45 kitab. Syekh Ahmad Khatib tidak hanya ahli di bidang agama tapi juga ahli Geografi dan Astronomi. Dalam otobiografinya, ia menjelaskan ilmu non agama dipelajari secara otodidak dengan rajin membaca.

Hinga akhir hayatnya beliau tak pernah kembali ke Minangkabau. Ada dua hal yang paling ditentang olehnya dalam tatanan Budaya Minang yaitu ; Sistim Matriakat (nasab) dan pembagaian harta warisan (faraidh) yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Meskipun begitu kecintaannya terhadap kampung halaman tak pernah pupus. Maka dari itulah beliau mengirim muridnya seperti Haji Rasul, Abdullah Ahmad, Jamil Jambek agar dapat merubah tatanan masyarakat Minang yang yang belum selaras dengan ajaran Islam.

Akhirnya, setelah mengabdi untuk umat srlama lebih tiga puluh tahun, tibalah ajal menjemputnya pada senin setelah Isya 9 Jumadil Awal 1334 H, bertepatan dengan 13 Maret 1916 M. Dalam usia 56 tahun di Kota Makkah.

Mengingat begitu besar jasa murid-murid didikan beliau dalam gerakan pembaharuan Islam di Minangkabau. Maka dari itu untuk menghormati jasanya, saya rasa pantaslah sekiranya nama beliau kita abadikan agar dikenang oleh generasi selanjutnya. Kita sandingkan Nama Syekh Ahmad Khatib pada Masjid Raya Sumatera Barat. Jadi masjid itu kita beri nama Masjid Ahmad Khatib atau Masjid Raya Sumatera Barat.

****

Al Albana, Andalas 29 Jumadil Akhir. 1439

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close