Kuda, Chopper dan Sepeda

Melewati masa kecil akrab dengan sandiwara radio pada dekade 80-an. Bersantai bersama sahabat-sahabat kecil pada sebuah dangau di tengah sawah sambil mendengarkan; Saur Sepuh, Tutur Tinular membuat saya dulu bercita-cita bisa menunggang dan punya kuda.

Masa berlalu, pada pada pemilu 2014, seseorang membuat saya bernostalgia pada masa lalu. Pada sosok Arya Kamandanu. Sama-sama Prajurit setia membela negara. Sama-sama gagal dalam asmara. Kamandanu yang punya pedang Naga Puspa gagah dan cermat pada medan perang namun tak mampu membaca perasaan wanita (Nararatih dan Mei Sin). Pedangnya yang hebat tidak dapat mengalahkan lirik-lirik dari Penyair Arya Dwipangga-kakaknya sendiri, yang dua kali menikung dengan menikahi Nararatih dan Mei Sin. Sama-sama punya satu anak yang yang tak ingin dikenal kalayak ramai. Dan ini yang paling utama sama-sama Panglima Berkuda. Inilah yang membuat saya menjatuhkan pilihan kepada sosok itu.

Tapi setelah belakangan saya tahu bahwa biaya perawatan dan pemeliharaan kuda sangat mahal. Berkuda hobi orang kaya. Kuda adalah simbol status sosial bagi penguasa dan pengusaha. Barulah saya sadar seharusnya tak pernah punya keinginan memiliki dan menunggang kuda.

Melalui masa-masa remaja pada pertengahan 90-an, hadir stasiun TV swasta, bermunculan sinetron remaja salah satunya Ali Topan Anak Jalanan. Sebagai seorang yang introvert, saya cenderung mengangagumi tokoh antihero seperti Ali Topan dengan Motor Besarnya.

Kemudian beberapa bulan yang lalu jagad maya sekan tak pernah rehat ini juga dihebohkan oleh Motor Chopper yang dipesan oleh seorang tokoh. Beberapa hari yang lalu pemilik Chopper beserta rombongan melakukan tour ke pantai dibagian selatan pulau jawa.

Saya dengar curhat di lingkaran perteman di facebook yang senang modifikasi motor pula bahwa hobi tak sesuai gaji ungkapnya. Barulah saya sadar bahwa motor besar adalah hobi yang mahal. Sewaktu mburuh sebagai sekrup kecil di kapal besar dulu, saya pernah menganalisa kredit motor besar seharga Rp 800 juta-an, mak jleb jantung saya berdebar karena kaget.

Dulu sewaktu masih di Batavia, saya sering dikagetkan dan disuruh menyingkir oleh suara sirine motor patwal yang sedang memberikan jalan untuk ‘gerombolan’ motor besar yang akan lewat. Saya kesal dan jengkel, padahal sama-sama bayar pajak tapi mereka diistimewakan. Di beberapa Mall menyediakan parkir khusus untuk motor gede yang terletak percis di depan pintu masuk. Padahal rodanya sama-sama dua seperti motor biasa yang disediakan area parkir di areal yang sangat jauh.

Mungkin karena kami rakyat biasa, bergaul dan berinteraksi sama dengan orang-orang yang kurang mampu. Maka dari itu saya sengit dengan hal-hal yang tampak mewah, semisal motor gede. Sepertinya rencana membeli sebuah sepeda dengan berkeranjang di depannya untuk menunjang aktifitas sehari-hari harus dipercepat lagi.

****

Al Albana, 22 Rajab 1439

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close