Rhoma Irama Seorang Filsuf, Perlawanan Melalui Dangdut

Sah, hal yang paling ikonik yang pada diri Bang Haji adalah Dangdut. Gelar Raja Dangdut Indonesia disandangnya. Selain Raja Dangdut, Bang Haji juga seorang aktor, produser, sutradara, penulis skenario dan lirik lagu. Barangkali juga seorang kareografer meskipun goyang Bang Haji hanya miring ke kiri dan ke kanan dengan gitar buntungnya. Saya menduga Bang Haji juga mendesain costum panggungnya sendiri. Pokoknya segala yang melekat pada Bang Haji selalu ikonik.

Jangan lupa Bang Haji juga seorang politikus. Catat! Bukan politikus kemarin sore yang karbitan, apalagi baperan. Kiprah beliu di panggung politik seumuran dengan karirnya di panggung hiburan dan layar lebar.

Apalagi?, ya. Pendakwah. Dai. Meskipun artinya sama dengan ustadz namun Rhoma Irama lebih cocok disebut pendakwah.

Jangan lupa! Bang Haji juga Don Juan. Tepatnya Don Juan Syar’i, dengan menikahi wanita yang didekati. Entah berapa jumlah pastinya. Beliau lebih pantas mendapatkan poligami award dibanding bos resto Wong Solo tempo hari. Dalam hal poligami ia sekelas dengan Soekarno karena sangat jarang terdengar konflik antar isteri atau antar anak-anaknya.

Banyak gelar yang sematkan kepaadanya, namun yang jarang disebut orang tentangnya adalah Rhoma Irama seorang filsuf. Filsuf Indonesia kontemporer dengan pemikiran-pemikiran mendalam yang disampaikan melalui film dan lagu, bukan buku atau diktat tebal apalagi melalu kajian-kajian ilmu sosial dan politik. Pilihan beliau atas dua media tersebut adalah strategi yang amat tepat untuk khalayak Indonesia berbudaya visual, yang jumlahnya hingga sekarang masih lebih banyak dibanding yang berbudaya literasi (baca). Silakan tanya Pak Prabowo, pasti ia akan menjawab bahwa budaya literasi kita masih sangat rendah. Pilihan Bang Haji menyampaikan pemikiran-pemikiran melalui lagu dan film sesuatu yang brilian.

Tahun 2016, Penyanyi dan penulis lirik lagu Country asal Amerika, Bob Dylan meraih Nobel Sastra. Sedikit terjadi perdebatan karena sebagian kritikus tidak memasukan lirik lagu sebagai karya sastra. Kepada seorang teman saya berceletuk “Barangkali panitia Nobel belum kenal Bang Haji Rhoma Irama, lirik lagunya jauh lebih filisofis dan mengandung pesan moral yang mendalam dibanding lagu-lagu Dylan”, padahal saya tidak tahu lagu-lagu Bob Dylan. “Mari kita berharap tahun depan Bang Haji mendapatkan hal yang sama dengan Dylan” ujar saya mengakhiri pembicaraan.

Penghujung 70-an, Orde Baru sangat beringas menghantam kekuatan politik Islam. kalaupun ada, salurannya cuma PPP, dengan kendali penuh Orde Baru, sambil merangkul beberapa teknokrat muslim dengan gagasan. “Pembaharuan Islam (boleh dibaca Islam Liberal) dan sekularisasi a la Nurcholish Majid.

Rhoma Irama yang berpolitik melalui PPP kala itu. Ia menjadi ikon partai Ka’bah untuk meraup suara. Tentu saja hal ini membuar Orde Baru gerah. Rhoma dianggap dapat menggerus perolehan suara Golkar. Ia mendapat pencekalan dari Orde Baru. Beberapa konsernya tidak dikeluarkan izin oleh pemerintah. Selama 11 tahun sejak 1977, Rhoma dilarang “ngamen” di TVRI.

Dalam buku ‘Dangdut Stories’ karya Andrew M Weintraub, ketika kampanye untuk PPP, Rhoma memplesetkan lagunya yang sangat populer ketika itu, yaitu ‘Begadang’. “Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya, begadang boleh saja, kalau ada perlunya”. Pelesetannya jadi; “Menusuk boleh menusuk, asal yang ada artinya, Menusuk boleh menusuk, Asal Kabah yang ditusuk”.

Sejak itulah lagu-lagu Rhoma seperti Hak Azasi, Rupiah, Udang di Balik Batu, dilarang tampil di TVRI maupun RRI. Pelarangan itu makin mencuatkan popularitas Bang Haji. Dangdut pun sempat menjadi simbol perlawanan rezim Orde Baru.

Rhoma Irama berhasil menyatukan Dangdut dan Politik, maka dari itulah untuk mengimbangi kekuatan Politik Bang Haji (Politik Islam) Orde Baru menghadirkan Aneka Ria Safari di TVRI (stasiun TV satu-satunya dan juga milik Pemerintah). Sebuah acara musik bulanan yang sangat kental dengan ikon-ikon militer-Peyangga utama kekuatan Orde Baru-.

Merasa tak bisa berbuat banyak untuk umat akibat ruang geraknya dipersempit Orde Baru, setelah 11 tahun, akhirnya perlawan Bang Haji mengendor. Ia semakin dekat dengan kekuasaan. Hingga akhirnya berganti Gerbong ; meninggalkan PPP bergabung dengan Golkar. Dan Rhoma pun kembali diizinkam manggung di TVRI.

“Rika, walau tampang Abang berubah, tetapi hati Abang tetap Kakbah.”

Inilah salah satu dialog dalam sebuah film Rhoma Irama. Saya menduga film ini digunakan Rhoma untuk menjelaskan tentang sikap politiknya, seiiring dengan kepindahannya ke Golkar.

Diskusi tentang Islam dan Politik menjadi terpecah dalam dua kubu, yakni (1) kaum formalis yang tetap menginginkan politik Islam berjuang leluasa di gelanggang politik negara, dan (2) kaum substansialis, yakni para teknokrat itu, yang mengaku memperjuangkan substansi Islam di dunia politik dan kebijakan publik. Awalnya ketika berusaha bertahan di PPP Bang Haji boleh disebut kelompok pertama, namun akibat gencetan Orde Baru yang tak memberikan ruang kepadanya ia berpindah ke kelompok kedua.

Rhoma memecahkan dualisme itu, sebab ia menjelaskan apa yang berubah dan apa yang tetap. “Tampang” bermakna wajah, yakni tampilan zahir yang bisa berubah; sedangkan hati yang tetap Ka’bah. Begitulah cara Bang Haji mendeklarasi kepindahannya dari PPP ke Golkar dengan harapan bisa berbuat lebih banyak untuk umat. Ia merasa, berpikir, dan merenung, juga memperoleh inteleksi berupa petunjuk dari Allah. Dengan hati dan akal yang berpikir, kita akan bisa menjalankan politik yang berubah-ubah dengan bimbingan epistemologi Islam.

Pemikiran ini dengan sangat cerdas dapat menyelesaikan dua kubu tersebut, sebab kaum formalis mesti dengan baik bersiasat (dari kata siyasah, “politik”) memperjuangkan tujuannya dengan sistem yang ada, sedangkan kaum substansialis harus sadar bahwa substansi politik Islam bukan terletak pada sisi rasionalnya belaka yang dapat menghasilkan kebingungan epistemologis ketika berjumpa dengan teori-teori politik Barat.

Dengan menilik ikhtiar politik Bang Haji, kita tak perlu lagi bingung setiap terjadi pembelahan semacam Berazas Islam atau Berazas Pancasila, Islam Politik atau Islam Sipil, atau yang terbaru sekaligus penting: Jokowi atau Prabowo.

****

Al Albana, Andaleh, 17 Rabiul Awal 1440

Satu tanggapan untuk “Rhoma Irama Seorang Filsuf, Perlawanan Melalui Dangdut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close