Buku

Pada era digital, akses informasi begitu mudah, cepat dan berlimpah. Informasi gentayanan di langit-langit media sosial dan berkelindan media daring, berhamburan melalui aplikasi perpesanan. Tak perlu looper koran untuk mengantarkan. Tak perlu berkunjung ke toko buku, cukup benda gepeng persegi–orang-orang memberinya nama Smartphone, lalu isi kuota maka informasi akan mendatangi kita hingga kamar, dapur bahkan ketika jongkok di closed. Namun sayang infomasi dangkal tanpa pendalaman. Laksana speedboot yang meluncur deras di permukaan sedikit saja menyentuh lautan.

Buku memberikan semacam penawar dahaga akan kedalaman, bahwa kita butuh jeda, bergerak pelan dan saya belakangan ini memuja sesuatu yang lamban, tidak tergesa-gesa, menahan diri agar tidak ikut arus celotehan sampah media sosial.

Karya monumental Hasan Al Bana, Majmua’tur Rasail atau Kumpulan Risalah Dakwah jilid 1-4 adalah buku termahal yang pernah saya miliki. Termahal dalam artian yang lain. Karena menurut Bibliomania ; buku yang paling mahal adalah buku yang dibeli namun tidak dibaca. Karya pendiri Ikhwanul Muslimin ini, setebal 1.700 halaman lebih, saya tukar hanya dengan selembar pecahan rupiah paling besar, itu pun saya menerima kembalian. Relatif murah dibanding jumlah halaman bahkan sangat murah dibanding ‘harta karun’ yang tersimpan di dalamnya. Buku ini saya beli pada Islamic Book Fair, Februari 2015 di Istora Senayan Jakarta. Buku ini ditulis dengan dua aksara dan bahasa secara berdampingan setiap halamann ; Aksara Arab berbahasa Arab dan Aksara Latin berbahasa Indonesia. Setelah empat tahun baru sekitar 50 halaman yang saya baca, sungguh progres yang buruk.

Di bawahnya buku Rumah Tangga Nabi Muhammad. Buku setebal 1.227 halaman ini disusun oleh H.M.H. Al Hamid Al Husein. Buku ini merupakan kado pernikahan kami dari seorang sahabat Om Bewok lebih dari sepuluh tahun silam. Buku ini telah saya tamatkan sejak pertama kali dihadiahkan. Setiap malan selepas Isya saya mendarasnya. Buku ini benar-benar menarik hingga sulit dihentikan jika sudah mulai dibaca, tak jarang saya sampai tidur larut malam. Namun karena sudah terlalu lama dan seiring bertambah usia ingatan pun semakin berkurang, akibatnya banyak bagian yang lupa.

Saya kira saat ini momen untuk bercengkarama dengan bau kertas agar tidak terbawa arus cilotehan sampah di media sosial akibat semakin dekat Pemilu. Saya akan mencicil ulang untuk membaca kembali kedua buku ini. Saya akan mengunjungi setiap halaman secara bertahap, tak perlu cepat, bukankah bercengkerama itu menikmati setiap alur tanpa terburu-buru? lima-sepuluh halaman yang mencerahkan setiap hari .

Apa gunanya menumpuk buku? Tentu berguna. Dulu calon isteri saya (alhamdulillah sekarang kata calon sudah dicoret) pernah bilang “beli saja dulu, toh buku tidak akan membusuk”.

Semua pengetahuan, dan pengalaman penting umat manusia ada di sana. Setiap ada waktu luang, biasanya setelah Isya, saya melakukan kunjungan singkat ke tempat-tempat yang tak terjangkau fisik, dan melepaskan pikiran mengembara ke aneka medan persoalan di buku itu. Sastra, sejarah, kebudayaan, intrik politik-kekuasaan, tragedi kemanusiaan, perang adalah wilayah kembara yang tak pernah membosankan bagi seorang pengembara yang tak suka berkelana, kecuali pikiran dan khayalan semata.

****

Al Albana-Pengembara dalam Khayal-Andalas, 13 Jumadil Akhir 1440

Kategori Buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close