PADA SEBUAH KEDAI KOPI

Sebenarnya perempuan itu malu, tapi apa daya high heel merah marun setinggi 12 cm membuat dia tak berdaya berdiri sendiri. Ia terima uluran tangan petugas kebersihan yang sedang menyapu beberapa langkah dari tempatnya jatuh. “Terima kasih” ucapnya seperti sedang berbisik. Dia bergegas meninggalkan selasar, berbelok ke sebuah kedai kopi yang paling pertama ditemuinya, tanpa membaca plank yang tertulis di atas pintu masuk. Tujuannya hanya satu ; secepat mungkin menghilangkan diri dari pandangan orang-orang yang berlalu-lalang, petugas kebersihan serta security yang menyaksikannya dia terjatuh beberapa detik yang lalu. Kepeleset akibat injakan high heel yang kurang tepat ditangga paling atas, memang tidak membuatnya cidera namun malunya yang tak terkira, seakan semua mata tertuju kepadanya.

” Sepatu keparat” umpatnya sesaat setelah menghempaskan pantat pada sofa abu-abu dan melemparkan clutch merah ke samping sofa yang tengah didudukinya. Ia meraba punggung kaki kiri “tidak ada yang lecet” gumamnya. Merasa mulai tenang ia mengangkat tangan. Pramusaji mendekatinya. “Hot Espresso dan croissant” ujar pramusaji sambil membalikan telapak tangan untuk meyakinkan bahwa orderan susah benar. “Untuk saat ini cukup itu dulu” balasnya sambil mengelurkan perlengkapan rias dan cermin kecil dari clutch merah. Pramusaji bergegas meninggalkannya.

Beberapa kali sapuan spoon bedak di wajah dan olesan lispstik merah menyala di bibir telah membuatnya tenang dan kembali percaya diri. Saat memasukan kembali peralatan rias ke dalam clutch, ia merogoh ponsel yang dari tadi diabaikannya. 14 kali panggilan tak terjawab dan 3 pesan whatsApp yang belum dibaca. Matanya tertuju pada pesan WhatsApp dari nomer yang tak tersimpan. “Hi, notifikasi di facebook memberitahuku bahwa kau juga sedang berada di Soeta”. “Aku juga sedang di Soeta, bisakah kita bertemu?”, “Beritahu aku dimana posisimu”. Itulah tiga pesan whatsApp yang baru saja dibukanya. Dari photo profil dia mengenal pemilik nomer, “ah, dia. kau masih saja seperti dulu, mencecar dengan pertanyaan dan mendesak, tanpa memberi ruang sedikitpun untuk berfikir”.

Setelah menaikan kerah sweater abu-abu hingga menutupi seluruh lehernya, perempuan itu meraih cangkir Espresso. Keasaman kopi Kenya mampu membuatnya rilek. Ponsel berdering, WhatsApp call. Ia abaikan, setelah nada sambung berakhir, dibalasnya dengan pesan ; “aku di Starbuck terminal III, tapi aku tidak memintamu datang ke sini dan aku juga tidak bisa melarangmu yang hendak menemuiku” selesai mengetik, ia ulangi membaca setiap huruf yang diketik, untuk memupus keraguan dipencetnya tombol ‘send’.

Di luar ruang tunggu bandara hujan masih turun berderai-derai, meskipun badai mulai mereda. Kini ia tak lagi merutuki cuaca yang telah membuat flightnya menuju Samarinda tertunda hingga 3 jam.

Sebenarnya bukan kopi itu yang membuatnya terus terjaga dan berhenti merutuki cuaca, namun ia tengah merakit kepingan kenangan saat terakhir kali bertemu Lelaki itu 5 tahun silam. Mereka bertengkar hebat di perjalanan sepulang dari nonton pemetasan Bunga Penutup Abad di Taman Ismail Marzuki. Lelaki itu menyanggupi tantangannya untuk menghentikan mobil agar di dapat turun. Berhasil turun, dibantingnya pintu mobil, lalu mencegat taxi. Sejak itu ia tak mau lagi menerima telepon dari lelaki itu, tidak juga membalas pesan BBM, SMS, Mesengger, WA. Bahkan tidak bersedia menemui ketika lelaki itu yang nekat mendatanginya ke rumah. Meskipun tidak memutuskan pertemanan di Facebook dengan lelaki itu, ia hanya meng-unfollow akun lelaki itu. Ia telah menutup buku untuk lelaki itu.

Lamunannya buyar dikagetkan oleh suara ” boleh aku duduk?”. Ia hanya memberi isyarat dengan anggukan tanpa bersuara. Diraih kembali cangkir kopi.
“Kau masih saja tak tak berubah” ujar perempuan itu tanpa mengangkat wajah, tatapannya masih tertuju kepada cangkir Kopi.
“Maksudmu?”
“Keras kepala dan mencecar dengan pertanyaan lalu mendesak ” ungkap perempuan itu dengan intonasi datar dan senyum tipis.
“sejak dulu aku memang begitu dan kamu tahu itu” lelaki itu terkekeh dan perempuan itu juga.

Hening beberapa saat, canggung untuk memulai bicara. Tenggelam dalam praduga masing-masing.
“Aku memang tak berubah, tapi kamu yang berubah” lelaki itu memecah kebuntuan. “Maksudmu? jangan bilang aku gemukan!” perempuan itu mengucapkan dengan sedikit melotot agar obrolan menjadi cair.
“Tidak. Aku tidak bilang kamu gemuk, tapi dandananmu sekarang lebih berani, semakin matang dan percaya diri”.
Petang itu ia mengenakan high heel merah marun setinggi 12 cm. Sepasang anting giok merah menyala sebesar kepalan bayi menggantung di kedua kupingnya, berpadu dengan cluct mini merah. Sedangkan bibirnya disapu dengan lipstick merah menyala pula. Sweater abu-abu menutupi seluruh lehernya. Sungguh penampilan yang memperlihatkan percaya diri tinggi.
“Biasa saja, karena sejak kejadian itu, aku bukan lagi perempuan yang mudah termakan tipu daya penyair gombal sepertimu”.
Tawa mereka pecah berderai-derai di sela-sela hujan yang belum terlihat tanda akan berhenti.

Tidak ada lagi pengumuman yang bersahut-sahutan seperti saat awal hujan mulai turun. Calon penumpang lebih senang duduk menahan kantuk, bermain ponsel, sekali-kali melintas ke toilet. Seorang petugas pemeriksa tiket terlihat asyik ngobrol dengan petugas keamanan yang menghampirinya. Mereka bercengkrama diselingi derai tawa.

“Kau hendak kemana?” lelaki itu memulai lagi. “Ke Samarinda, Urusan kerja, kau sendiri hendak berangkat atau baru landing?”.
“Aku baru mendarat. Baru kembali dari Bangkok , untuk menghadiri Festival Literasi se-Asia Tenggara yang digagas Kerajaan Thailand”.
Perempuan itu tidak menaggapi, dia menahan diri, dia tidak ingin terlihat ‘kepo’ dengan kehidupan lelaki itu.

Hening lagi. Bisu. “Sudah berapa lama kita tidak bertemu?” perempuan mencairkan kebekuan sekaligus menguji sejauh mana lelaki itu mengenangnya. “Lama. Lama sekali 4 tahun lebih”
“wow, lama juga ya”.
“ya, cukup lama”

Hening. Membisu lagi. “Jadi bagaimana selama empat tahun, sudahkah kau menemukan cinta sejatimu?” ucap lekaki itu sedikit canggung.
Perempuan itu tidak lansung menanggapi. Mendiamkan sejak. Ditariknya nafas dalam-dalam. Dia tak ingin bercerita dan juga tidak ingin lelaki itu mengetahui bahwa setahun setelah mereka berpisah dia memutuskan menikah dengan rekan sekantornya. Memasuki tahun kedua pernikahan, mereka sepakat mengakhirinya secara baik-baik.
“Hidup tidak mesti sepenuhnya diisi tentang cinta, maksudku perihal asmara bukan?” diucapkan dengan pelan namun tegas.
“Ini hanya sebuah pertanyaan, meskipun dandanmu berubah namun sinismu masih seperti dulu” rayu lelaki itu.
“Bukan, ini sebuah introgasi, catat! aku bukan terduga apalagi tersangka, ubah caramu bertanya”

Perempuan itu melemparkan pandangan ke luar, bibirnya terkatup rapat. Di luar hujan mulai reda, tapi belum berhenti. Aktifitas bongkar-muat cargo mulai normal. Di sudut paling jauh sebuah pesawat yang tidak terbaca nama maskapai terlihat sedang mengisi bahan bakar.
“Kau pelit, tidak menawariku minum” canda lelaki itu, karena merasa suasana belum benar-benar cair.
“Kau bisa pesan sendiri, bahkan suaramu bisa lebih lantang untuk memanggil pramusaji. Soal bayar biar urusanku Tuan Penyair”.
Kali ini berhasil. Lelaki itu semakin percaya diri. Merasa pancingannya mulai mengena. Ia memilih menunggu perempuan itu memulai obrolan selanjutnya. Lelaki itu menutup bibir rapat-rapat, membuka kuping untuk mendengar suara perempuan di depannya. Ia tak ingin kehilangan satu suku katapun yang terucap dari bibir perempuan itu.

Benar. Perempuan itu memulai obrolan “Sepertinya benar yang kau ucapkan tempo hari, cinta tidak bisa dicari. Atau ditemukan. Justeru cintalah yang menghampiri kita”. Lelaki itu terkekeh mendengarnya. “Maksudmu? Karena kita bertemu di sini tanpa sengaja?. Jadi apa artinya?” Lanjut lelaki itu. “Kamu benar-benar bertanya atau memancing Tuan Perayu” kali ini perempuan itu yang menatap lelaki itu dalam-dalam.
Lelaki itu terkekeh lagi, kepalanya menggeleng “Kamu tahu aku tidak suka memancing, aku lebih suka mendatangi Warteg atau Warung Padang untuk mendapatkan ikan” lelaki itu masih tertawa berderai-derai.

“Ah, kau” diucapkan perempuan itu sambil memukul bahu lelaki di hadapannya.
“Serius aku ingin tahu, karena ini pertama kali kita bertemu dan berkomukasi sejak kau tak lagi bersedia menerima telponku” lelaki itu mendesak lagi.
“Sama sekali, kau tak pernah tahu dan tak mencari tahu, bagaimana denganku sejak hampir lima tahun lalu” balas perempuan itu. “sama sekali tidak” balas lelaki itu.
“wow, bagaimana bisa?” Lanjut perempuan itu. “Maksudmu?” balas lelaki itu sambil mengekerutkan dahi.
“Sepertinya kau bukan seperti yang kukenal dulu” lanjut perempuan itu.
“Benar, kata orang-orang perempuan memang susah dimengerti, termasuk kau. Bukankah saat awal bertemu tadi kau menyebutku tidak pernah berubah, baru beberapa menit, barusan kau menyebut bahwa aku bukan seperti yang kau kenal dulu”.
Keduanya terkekeh-kekeh. Lelaki itu menyambar cangkir kopi, lalu menungkan seluruh isi cangkir ke dalam mulutnya. Tandas. “Aku boleh pesan lagi?” ujarnya meminta persetujuan.
“Kenapa? kau nervous berhadapan denganku tanpa kopi?”.
“Untuk berhadapan dengan perempuan istimewa, aku selalu butuh kopi”.
“Ada berapa perempuan istimewa dalam hidupmu?” desak perempuan itu sambil melotot.
”Lelaki memang tempat bersimpul segala kesalahan dalam pandangan perempuan, beberapa saat yang lalu kau menuduhku menginterogasimu, saat ini sebaliknya, boleh jika aku tak bersedia menjawab pertanyaanmu barusan?”

Suasana benar-benar cair dan mengalir. Mengingat betapa buruknya perpisahan mereka lima tahun lalu, Lelaki itu tak menyangka pertemuaan tak terduga secair ini. Hidup memang penuh kejutan.

“Jadi kamu berharap, aku terus menguntitmu, begitu? Ha ha ha” berhenti sejenak.
“Setiap orang berubah bukan” ujar lanjut lelaki itu.
“Mungkin” balas perempuan itu.
“Kamu tidak merasa dirimu berubah?”
“Entahlah, orang lain, termasuk kau yang lebih pantas menilai” perempuan itu berkilah.

“Baik, aku rubah pertanyaan, aku berharap ini bukan interogasi ; ada berapa kali cinta menghampirimu dalam 4 tahun terakhir nona manis? apakah saat ini kau menjalani hidup dengan salah satunya?” lelaki itu merubah mimiknya. Ekpresinya serius. Matanya menatap tajam perempuan di hadapannya.
“Bisakah kau berhenti menginterogasiku setiap kali kita bertemu?” jawab perempuan itu sambil memencet hidung lelaki yang di seberang meja.

“Ok, setidaknya kamu tahu ada satu lagi sifatku yang tak berubah ; mengiterogasimu” ujar lelaki itu melotot. Tawa mereka pecah lagi berderai-derai. Keduanya kembali terdiam saat petugas mengumumkan bahwa pesawat tujuan Samarinda segera diberangkatkan. Lelaki itu menandaskan kopinya, saat perempuan menyelesaikan pembayaran.

Mereka berdiri dan meninggalkan Kedai Kopi menelusuri selasar menuju ruang tunggu. Beberapa langkah menjelang loket pemeriksaan tiket, perempuan itu menghentikan langkah, “aku boleh bertanya lagi ?”
“Boleh dengan satu syarat, jawab dulu pertanyaanku yang terakhir tadi! Kalau kau lupa aku bersedia mengulanginya ; (1) Ada berapa kali cinta menghampirimu dalam 4 tahun terakhir nona manis? (2) Apakah saat ini kau menjalani hidup dengan salah satunya” ujar lelaki itu sambil pura-pura memasang wajah marah.
Perempuan itu tertawa, “jawabanya tidak untuk pertanyaan kedua. Pertanyaan pertama aku tidak bersedia jawab, bagaimana Tuan Perayu sudah bolehkah aku bertanya ?”
“Syarat tidak terpehuhi, kewajiban menjawab pertanyaan sudah gugur, kau tak boleh bertanya, namun boleh meminta”

“Baik, aku meminta Tuan Perayu menghubungiku ponselku 90 menit setelah kita berpisah sini” ujar perempuan itu manja. Lelaki itu menganggukan kepala. Menatap dalam-dalam perempuan itu. “Thank atas traktiranmu, terlebih kesedianmu untuk pertemuan ini, take care!” balas lelaki itu dengan suara pelan.

Selesai petugas memeriksa bording pas, perempuan itu menginjakan kaki di elevator yang akan mengantarnya memasuki ruang tunggu. Di penghujung elevator sebelum menikung ke kiri ia memutar badan memandang ke arah lelaki tadi dan mengangkat tangan kiri, membentuk jari seolah-olah sedang menelpon sebagai isyarat meminta lelaki tadi menghubunginya. selanjutnya ia memasuki ruang tunggu lalu menuruni anak tangga menuju pesawat.

Lelaki itu memutar badan sesaat setelah tubuh perempuan itu tak terlihat lagi. Ia menuruni anak tangga. Di luar hujan telah berhenti, azan magrib berkumandang. Jalanan berpendar disiram air, dan lampu-lampu jalan melantunkan cahaya. Di jendela kaca bulir sisa air hujan mengalir, dan angin sejuk menyelinap dari celah bus dan taxi yang parkir atau berhenti sejenak sepanjang selasar bandara. (Bersambung)

****
Al Albana, Andalas, Muharram 1441

Kategori Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close