Untuk Apa Berlapar-Lapar Puasa ?

Barangkali pada masa kanak-kanak dulu saya tidak tumbuh dalam lingkungan keluarga dan sosial yang kritis seperti generasi zaman sekarang–seperti yang dinyanyikan oleh Bimbo ; ada anak bertanya pada bapaknya untuk apa berlapar-lapar puasa?
Bisa jadi pula karena saking senang dengan kedatangan Ramadhan–dan lebaran dengan baju baru–sehingga tidak terpikir pertanyaan seperti itu.
Kalaupun ada pertanyaan seputar puasa biasanya ; Nanti malam boleh nggak taraweh nggak? Dan menjelang akhir ramadhan, saat kue lebaran sudah banyak, ‘besok boleh nggak puasa nggak? Atau nanti malam nggak taraweh boleh ya? Sungguh bukan jenis pertanyaan philosofis namun pertanyaan receh lagi dangkal.

Alwi, anak saya usia 11 tahun pernah menanyakan ini kepada saya. Saya tak ingin asal jawab. Misalnya ; agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa, agar dengan berpuasa kita bisa merasakan seperti apa rasanya haus dan lapar yang dirasakan orang miskin. Saya rasa jawaban seperti ini sudah didapatkannya dari buku sekolah atau tausiah di masjid.

Kurang lebih begini kesimpulan penjelasan saya.

1 syawal, Idul Fitri sering dikaitkan kepada sesuatu yang suci. Kembali ke fitrah, setelah sebulan kita berpuasa. Maksudnya bulan ramadhan merupakan ajang pensucian diri dengan berpuasa di siang hari dan qiyamul lail pada malam hari. Jika semua terpenuhi sejatinya kita memang telah kembali fitrah pada saat merayakan Idul Fitri.

Pada setiap insan ada namanya kita sebut nurani, nurani ini bersih, suci akan menuntun kita kepada kebenaran. Bahkan bukan hanya seorang kuruptor, pencuri, pezina, pembunuh sekalipun akan bergetar hatinya setiap melakukan kejahatan. Setidaknya nurani akan membisikan bahwa apa yang dilakukannya merupakan perbuatan tercela atau dosa. Namun kadang diabaikan karena nafsu atau menuruti keinginan.

Kenapa setiap dosa selalu dikaitkan dengan sesuatu yang “mungkar” atau kemungkaran? Barangkali karena ia merupakan sesuatu yang “mengingkari” hati nuran sendiri. Dan sesuatu yang mengingkari “nurani” pada dasarnya menjauh dari cahaya, alias “gelap”.

Dengan berpuasa sebenarnya mengajak seseorang menahan nafsu yang merupakan sumber sesuatu yang mengajak kepada keburukan alias menjauh dari nurani. Dosa oleh karenanya dikatakan sebagai nafsu memburu kesenangan yang dalam jangka pendek menyenangkan, padahal dari sudut jangka panjang sebenarnya buruk. Dengan cara puasa, kita diajari mendekat pada sumber nuraninya lagi, kembali ke asal sumber nurani yang fitrah. Bahkan orang belum mengenal ajaran agama pun, pada dorongan “fitrah” asalnya ini orang cenderung menuju kebaikan, kebenaran, dan keindahan.

Pada Al Baqarah 183 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan berpuasa atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa”.
Ummat sebelum kita telah berpuasa, bukan hanya penganut agama abrahamik ; Yahudi dan Nasrani) bahkan penganut agama Ardi seperti Hindu, Budha serta penghayat kepercayaan juga sudah mengenal laku spritual berpuasa. Ada berpuasa terlalu ekstrim, puasa siang dan lama dan ada pula yang terlalu longgar, misalnya hanya tidak makan daging dan ikan. Beragam. Islam datang mengafirmasi laku spritual itu. Islam sebagai agama wasathiyah (pertengahan) berpuasa tidak terlalu ektrim dan juga tidak terlalu longgar. Berpuasa, tidak makan dan minum dan hal yang membatalkan lainnya mulai dari fajar hingga tenggelam matahari.

Pada masa pra Islam masyarakat penghayat kepercayaan tradisional juga melakukan laku spritual puasa. Tentu saja puasanya berbeda dengan Islam. Misalnya masyarakat penghayat Bissu di Sulawesi. Jika terjadi perang antar suku, seorang kepala suku sebelum duduk di meja perundingan di waktu yang telah disepakati, maka ia berpuasa terlebih dulu, tergantung besar-kecilnya masalah yang akan diselesaikan. Semakin berat masalah semakin lama seorang kepala suku berpuasa, bisa 3 hari atau seminggu. Dengan maksud saat berunding si Kepala Suku stabil emosinya, telah reda amarahnya karena telah diredam dengan berpuasa. Bahkan puasanya bukan hanya sekadar makan minum namun juga puasa bicara, agar nurani kembali bersih.

Sejatinya dengan berpuasa kita sedang menerangi nurani kita yang barangkali telah gelap atau setidaknya buram oleh nafsu, agar pada 1 syawal kita kembali bersih, kembali ke fitrah manusia yakni Suci.

Semoga 1 Syawal nanti nurani kita kembali suci! Kembali fitrah.

****

Al Albana, Padang Ramadhan 1442

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close