Ketauladanan Buya Hamka

Mencari celah yang belum ditulis orang tentang Buya, mungkin sama susahnya dengan mencari bagian mana dari perjalanan hidupnya yang tidak meninggalkan tauladan. Banyak sekali tulisan yang mengurai tentang kehidupan Buya. Namun meski membaca berulang-ulang penggalan kisah kehidupannya tak pernah membosankan. Dengan membaca kisah ketauladanannya bagaikan pelepas dahaga ditengah langkanya sosok yang memberikan ketauladanan saat ini. Beliau bagaikan oase ditengah gurun yang gersang suasana bernegara saat ini.

Dalam buku ‘Ayah’ karya Irfan Hamka–anak Buya Hamka, diceritakan Irfan ikut berlayar dengan Buya ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji pada Februari 1968. Diatas kapal Mae Abeto juga ada KH. Idham Khalid. Saat waktu subuh datang KH. Idahm Khalid menjadi imam , Buya dan Jemaah lainnya berbaris rapi di belakang sebagai makmum di geladak kapal yang digunakan sebagai Mushola. Bangkit dari rukuk rakaat kedua KH. Idham Khalid lansung sujud tidak seperti ritual sholat subuh warga nahdliyin. Sedangkan Idham Khalid adalah ketua NU. Selesai sholat Buya menghampiri KH Idham Khalid, lalu bertanya” kenapa kyai tidak membaca do’a qunut ? . “Saya tidak membaca do’a qunut karena di belakang saya yang menjadi makmum ada Buya, saya tidak mau memaksa orang yang tidak berqunut agar ikut berqunut”, jawan KH Idham Khalid.

Keesokan harinya giliran Buya yang menjadi imam sholat subuh dan KH. Idham Khalid beserta rombongan lainnya menjadi makmum. Bangkit dari rukuk rakaat kedua, Buya mengangkat kedua tangan membaca do’a qunut subuh dengan fasih, padahal bagi kalangan Muhammadiyah sholat subuh tanpa qunut sedangkan Buya adalah pimpinan Muhammadiyah. Kini giliran KH. Idham Khalid yang bertanya kepada Buya “mengapa Buya membaca do’a qunut saat mengimani sholat subuh tadi?”, “karena saya mengimani KH. Idham Kholid, tokoh NU yang biasa berqunut saat sholat subuh. Saya tidak orang yang berqunut untuk tidak berqunut”, jawab Buya Hamka merendah. Kedua tokoh besar Muhammadiya dan NU itu pun berpelukan.

Sebagai tokoh besar tentu saja perjalanan hidup beliau tidak ‘lempang-lempang’ saja. Banyak yang mengaguminya tentu juga ada yang tidak sejalan dengan perjuangannya. Begitu pun Hamka pernah berkonflik dengan tokoh nasional lainnya. Namun Buya yang tegas tapi juga lembut hatinya memaafkan mereka-mereka yang dulu berseberangan bahkan yang memfitnah beliau. Setidaknya seperti yang mashur diceritakan ada tiga tokoh yang pernah menzholimi beliau, namun dengan berjiwa besar dan berlapang dada Buya memaafkan.

Soekarno

Pada tahun 1959 PRRI-PERMESTA melakukan pemberontakan di Sumatera dan Sulawesi. Pemberontakan ini dapat diatasi dengan cepat dan mudah oleh Soekarno. Namun pemberontakan ini berbuntut panjang karena tokoh-tokoh Masyumi dan PSI dituduh terlibat dalam PRRI, sehingga Seokarno membubarkan Masyumi dan PSI pada tahun 1960. Sejak itu terjadi gesekan antara Seokarno dengan Kolompok Islam (Masyumi) termasuk dengan Hamka sebagai representasi dari Muhammadiyah dan Masyumi. Hingga Pada tahun 1964 karena dituduh melanggar UU anti subversih. Hamka dipenjara tanpa proses pengadilan selama dua tahun empat bulan, hingga Soekarno terjungkal dari kekuasaan. Dan tidak hanya itu buku-bukunya juga dilarang terbit dan beredar.

“Saya ingin jika wafat kelak, Hamka bersedia mengimami jenazahku”, ujar Soekarno menjelang wafat. Pada 16 Juni 1970 Mayjend Suryo–ajudan Presiden Soeharto mendatangi ke rumah Hamka untuk mengabarkan bahwa Soekarno telah tiada, sekaligus menyampaikan wasiat Seokarno yang berbunyi bila aku mati kelak yang, minta kesedian Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku”

Mendengar khabar Soekarno meninggal, Buya bergegas melayat jenazah sang proklamator di Wisma Yoso. Dengan mantap bersedia menjadi imam sholat jenazah Seokarno. Pesan terakhir sahabatnya– Putera Sang Fajar yang telah mempenjarakannya dengan ikhlas ditunaikan Buya Hamka.

Akibat Buya menunaikan pesan terakhir Soekarno, banyak teman-taman yang menyalahkan kebijakan Buya. Berbagai alasan disampaikan ada yang mengatakan Soekarno munafik, lebih dekag dengan kelompok anti tuhan dibandingkan umat islam, ada yang coba mengingatkan Buya dengan peristiwa masa lalu ketika Buya dipenjara. Buya hanya menjawab dengan lembut, “hanya Allah yang mengetahui seorang itu munafik atau tidak, yang jelas sampai ajalnya ia tetap seorang muslim. Kita berkewajiban menyelenggarakan jenazahnya dengan baik. Saya tidak pernah dendan kepada orang yang menyakiti saya. Dendam itu dosa besar. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu anugerah yang tiada terhingga dari Allah, sehingga dengannya saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al Qur’an 30 juz. Bila bukan dalam tahanan tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu”

.

Muhammad Yamin

“Bila saya wafat, tolong Hamka bersedia menemani saat-saat akhir hidupku dan ikut mengantar jenazahku ke kampung halaman di Talawi“, demikian pesan Muhammad Yamin dalam sakitnya.

Kurun waktu 1955-1959, terjadi perseteruan panjang dalam sidang-sidang Konstituante antara (1) Kelompok Islam yang menginginkan Negara Berdasarkan Islam, yang diusulkan oleh Masyumi, NU, PSII, Perti dan kelompok Islam lainnya dengan tokoh Muhammad Natsir, Hamka berhadapan dengan (2) Kelompok yang menginginkan Pancasila sebagai dasar negara yang didukung oleh PNI,PKI, PSI, Parkindo dan fraksi nasionalis lainnya. Yamin salah soerang yang tergabung dalam fraksi Nasionalis dari PNI yang menginginkan Pancasila sebagai dasar negara.

Dalam sebuah persidangan Buya Hamka menyampaikan pendapatnya “Bila negata kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka”. Muhammad Yamin yang berasal dari PNI terkejut mendengar pernyataan itu. Jika zaman sekarang seorang Yamin mungkin disebut seorang “Nasionalis Radikal” atau “pancasilais garis keras”, seorang Soekarnois tentu akan menyerang siapa saja yang tidak sejalan dengan Pancasila ide Soekarno, termasuk menyerang Buya Hamka. Yamin tidak hanya marah besar namun berlanjut membenci Buya Hamka.

Pada tahun 1962 Yamin sakit keras hingga dirawat di RSPAD. Yamin meminta sekondannya-Chaerul Shaleh menghubungi Buya Hamka guna menceritakan tentang sakit dan pesannya.

“Apa yang dipesankan Yamin?”, tanya Buya kepada Chaerul Shaleh.

“Yamin berpesan, agar saya menjemput Buya untuk menjenguknya di Rumah Sakit. Beliau ingin menjelang ajalnya didampingi Buya, saat ini Yamin sedang sekarat”, Chaerull Shaleh menjelaskan.

“Apalagi pesan Yamin ?”, tanya Buya

“Beliau ingin jika wafat dimakamkan di kampung halamannya, Talawi dan ingin sekali Buya mengantarnya hingga liang lahat”.

Yamin Putera Minangkabau berasal dari Talawi-Sawahlunto. Beliau sangat khawatir masyarakat Talawi tidak menerima jenazahnya kelak jika ia meninggal. Karena ketika terjadi pergolakan PRRI di Sumatera Barat, Yamin turut mengutuk aksi pemisahan wilayah tersebut dari NKRI. Dan turut mempengaruhi Soekarno agar mengambil langkah militer dalam menyelesaikan aksi separatisme itu.

Mendengar penjelasan Chaerul Shaleh, Buya bergegas menuju RSPAD. Sesampai di Rumah Sakit sudah banyak tamu yang hadir. Yamin terbaring lemas tak berdaya dengan selang infus dan oksigen. Mengetahui kedatangan Buya terlihat wajahnya agak berseri, dengan gerakan sangat lemah ia berusaha melambaikan tangan sebagai isyarat agar Buya mendekat. Buya mendekat lalu menjabat tangan Yamin, dengan lembut diciumnya kening tokoh yang telah bertahun-tahun membencinya.

“Terima Kasih Buya sudah sudi datang”, bisik Yamin dengan suara liris nyaris tak terdengat.

“Dampingi saya”, bisiknya lagi

Tangan Buya terus digenggamnya. Buya membisikan Al fathihah, lalu la illaha illalah. Dengan lemah Yamin mengikuti. Kemudian Buya mengulangi lagi kalimat tauhid tersebut sebanyak dua kali. Pada bacaan kedua sudah tidak terdengar lagi Yamin mengukuti. Hanya isyarat yang diberikannya berupa mengencangkan genggaman tangannya kepada Buya. Kembali Buya membisikan kalimat tauhid untuk yang ketiga kali ke telinga Yamin. Namun sudah tidak ada respon sedikitpun. Genggaman tangannya pun mengendor dan perlahan terlepas dari genggaman Buya.

Muhammad Yamin, tokoh yang bertahun-tahun membenci Buya, di akhit hayatnya meninggal dunia sambil bergenggam tangan Buya.

Keesokan harinya, memenuhi pesan terakhir Almarhum, Buya pun mengantar jenazah Yamin ke Talawi, Sawahlunto untuk dimakamkan.

Pramoedya Ananta Toer

Kurun waktu 1960-an perseteruan antara seniman Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) dengan Manifestasi Kebudayaan (Manikebu) sedang panas-panasnya. Seniman Lekra merasa diatas angin karena merasa dekat dengan Soekarno. Awal tahun 1963, dunia sastra digemparkan oleh surat kabar Harian Rakyat dan Harian Bintang Timur, kedua surat khabar harian ibu kota yang merupakan corong propaganda komunis. Pada salah satu kolom sastra yang diasuh oleh Pramoedya Ananta Toer mengulas bahwa “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” adalah jiplakan dari karya Alvonso Care, pujangga Prancis.

Berbulan-bulan lamanya kedua koran menyerang Buya dengan tulisan-tulisan berbau fitnah. Bahkan juga menyerang hal-hal pribadi di luar Tenggelamnya Kapal Van der Wijck , Buya tidak merespon tetap tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tidak merasa terusik.

Pada suatu hari Buya Hamka kedatangan sepasang tamu. Perempuan berwajah melayu, sedangkan laki-laki berwajah oriental. Kepada Buya, perempuan itu memperkenalkan diri bernama Astuti, Puteri Sulung Pramoedya Ananta Toer. Sedangkan yang laki-laki bernama Daniel Setiawan calon suaminya. Buya terkejut mengetahui perempuan itu anak dari Pramudya yang dulu memfitnahnya. Selanjutnya Astuti menjelaskan maksud kedatangan mereka bahwa Daniel Setiawan adalah non muslim yang membutuhkan bimbingan agar Buya membimbing Daniel dalam mempelajari Islam.

Selesai mendengar penjelasan mereka, Buya tanpa sedikitpun keraguan meluluskan permintaan mereka. Daniel dibimbing lansung oleh Buya hingga tiba saatnya mengucapkan syahadat dan sebelumnya Buya sudah meminta Daniel berkhitan. Buya membuat jadwal agar pasangan itu terus belajar islam padanya.

Dalam pertemuanya dengan puteri sulung Pram, Buya sama sekali tidak pernah menyinggung nama Pram. Benar-benar seperti tidak pernah terjadi apa-apa antara Pram dengan dirinya.

Salah seorang sahabat Pram yang bernama Dr. Hoedaifah Koeddah pernah menanyakan kepadanya, alasan seniman Lekra mengutus calon menantunya belajar islam kepada Hamka.

“Masalah faham kami tetap berbeda, saya ingin puteri saya yang muslimah harus bersuami laki-laki seiman. Saya lebih mantap mengirim calon menantu saya belajar agama islam dan masuk islam kepada Hamka” jelas Pramoedya dengan gamblang.

Tidak hanya itu, ketika Orde Baru yang represif melarang buku-buka karya Pramoedya beredar. Hamka tidak setuju. Ia menanggapi dengan ringan, “jika tidak suka pada sebuah buku, jangan buku itu dilarang, tapi tandingi dengan menulis buku pula”. Kutipan ini ditulis oleh Taufik Ismail dalam Kata Pengantar Buku “Ayah” karya Irfan Hamka.

Untuk mengetahui jumlah karya yang dihasilkan Hamka dapat dibaca di sini

****

Al Albana, Andalas, 06 Jumadil Akhir 1439

Kategori Tokoh

2 tanggapan untuk “Ketauladanan Buya Hamka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close